Sabtu, 12 Januari 2013

LAWANG SEWU, SERIBU PINTU DENGAN SERIBU KISAH


Undangan kunjungan kerja dari salah satu kantor wilayah tempat saya bekerja begitu menyenangkan hati.  Ini adalah kesempatan pertama saya untuk mengunjungi Semarang.  Mudah – mudahan ada kesempatan untuk berjalan – jalan di kota yang terkenal dengan bandeng presto dan lumpia-nya ini di sela – sela pekerjaan yang seabrek – abrek banyaknya.

Sabtu, 17 November 2012

MEULABOH, SISI LAIN KEELOKAN NANGGROE







































4 jam menempuh perjalanan sejauh + 245 km cukup melelahkan saya.  Namun pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan Banda Aceh hingga Meulaboh ternyata luar biasa.  Walaupun sempat terlelap dalam 1 jam perjalanan awal karena kelelahan menempuh perjalanan dari Jakarta – Banda Aceh sehingga saya kehilangan kesempatan menyaksikan indahnya lansekap Pegunungan Groote, namun eksotisnya alam Nanggroe Darussalam ini masih tersisa dari Lamno hingga senja tiba di kaki langit kota Calang, salah satu daerah yang paling parah terpapar tsunami di Desember 2004 lalu.


Senin, 29 Oktober 2012

DANAU TOBA, KEINDAHAN SI KAWAH SUPER VOLKANO

Alkisah ada seorang petani yang rajin sekali dan bernama Toba.  Dia mendapatkan seekor ikan yang besar ketika memancing.  Ikan tersebut akhirnya menjelma menjadi seorang wanita yang cantik luar biasa yang kemudian menjadi istri petani tersebut dengan satu syarat bahwa Toba tidak boleh menyinggung asal usul istrinya yang menjelma dari ikan.  Singkat cerita mereka akhirnya dikaruniai seorang anak yang pada suatu hari disuruh ibunya untuk mengantarkan nasi kepada ayahnya di ladang.  Namun di tengah perjalanan si anak tadi memakan hampir seluruh nasi yang seharusnya diantar kepada ayahnya.  Mengetahui hal ini Toba pun marah besar dan tanpa sadar memukul anaknya sambil mengatakan “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!” Sang anak pun akhirnya menceritakan perlakukan dan perkataan kasar si ayah kepada ibunya.  Alangkah terkejut si Ibu begitu mengetahui bahwa suaminya telah melanggar sumpah untuk tidak mengatakan asal usul dirinya.  Ibu dan anak tadi akhirnya memutuskan melompat ke dalam sungai dan berubah menjadi ikan.  Toba, si petani itu pun menyesal mendapati istri dan anaknya telah berubah menjadi ikan serta mencoba menyusul mereka.  Namun hujan besar akhirnya membuat air sungai meluap dan menenggelamkan kampung Toba dan berubah menjadi danau.  Dalam versi cerita rakyat yang lain disebutkan kalau di tempat Ibu dan anak berpijak terakhir menyembul mata air yang akhirnya menenggelamkan desa sehingga menjadi danau.

Sabtu, 06 Oktober 2012

POSTCARD DARI SIDAMANIK, SIMALUNGUN

Sidamanik.  Itulah tujuan saya membawa anak istri dan keluarga abang saya yang datang dari Lembang ke Pematang Siantar untuk menikmati libur Lebaran 2012 kali ini. Memang bukan tujuan utama, hanya sekedar tujuan antara saja.  Tujuan utama perjalanan kami pagi itu tentu saja Danau Toba dan Pulau Samosir.  Istri abang saya yang asli Lembang itu beserta dengan Ichsan dan Iqbal, kedua putera mereka, belum pernah melihat keindahan danau terbesar di nusantara ini,  Toba. Jadi, mumpung liburan dan menginap di Pematang Siantar, pagi itu kami sempatkan untuk mencuci mata ke Danau Toba via Sidamanik dan Tanjung Unta.  Sengaja saya memilih rute yang agak sedikit memutar dan lebih jauh ini agar dapat menyuguhkan pemandangan alam khas Simalungun kepada tamu dari Lembang tadi.

Minggu, 30 September 2012

MENANTI SENJA DI MALIMBU II, LOMBOK

Sore itu kami berhasil menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari biasanya sehingga memutuskan untuk kembali ke hotel yang terletak di pinggir Pantai Senggigi, Lombok.  Namun di tengah perjalanan dari kantor yang terletak di Cakranegara, Mataram, driver yang membawa kami sore itu, Pak Ade, menawarkan destinasi menarik untuk menghabiskan petang daripada kembali ke hotel. Toh waktu untuk bersantap malam masih lama, sehingga sayang sekali menunggu di kamar hotel. Akhirnya, seluruh anggota tim pun setuju dan mobil pun langsung mengarah ke Bukit Malimbu yang terletak tidak jauh dari lokasi hotel kami menginap.

Minggu, 29 Juli 2012

MELANCONG KE SENGGIGI, LOMBOK







































Hari masih gelap ketika saya memutuskan untuk keluar kamar dan berjalan menyusuri Pantai Senggigi yang letaknya dekat sekali dengan hotel tempat saya menginap.  Walaupun badan ini masih meminta istirahat setelah menyelesaikan sholat Subuh, namun keinginan hati jauh lebih kuat untuk menikmati keindahan Senggigi di pagi hari. Berbekal informasi dari petugas resepsionis yang saya tanya malam tadi, saya pun bergegas menuju Pantai Senggigi, berharap mendapatkan sunrise hari ini walaupun saya tahu hal itu tidak mungkin.  Hahahahaha....ya namanya juga berharap.  Menurut informasi petugas resepsionis, saya harus menuju ke tempat yang disebut anjungan atau Senggigi Reef.  Disana saya dapat menyaksikan matahari terbit walaupun terhalang punggung bukit.

Sabtu, 21 Juli 2012

MELIHAT KEHIDUPAN SUKU SASAK DI DESA SADE, LOMBOK

Bila anda suatu saat berlibur ke Pulau Lombok, sempatkanlah mampir sejenak di Desa Sade yang berada di Lombok Tengah.  Desa wisata ini menawarkan pengalaman unik kepada wisatawan dengan melihat dari dekat kehidupan sehari - hari suku Sasak, suku asli yang mendiami Pulau Lombok.  Lokasinya juga tidak jauh dari Bandara Internasional Lombok (BIL).  Anda hanya membutuhkan waktu 20-30 menit saja untuk mencapai Desa Sade dan merasakan denyut nadi suku Sasak di desa ini.  Bagi anda yang berniat melakukan perjalanan menuju Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan, anda akan melewati desa ini.  Saya sendiri merasakan ketertarikan yang begitu dalam ketika melewati desa ini dalam perjalanan menuju Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan. Niat untuk singgah dan berkeliling di desa wisata ini akhirnya baru kesampaian setelah kunjungan ketiga kalinya ke Bumi Mandalika ini.