Senin, 29 Oktober 2012

DANAU TOBA, KEINDAHAN SI KAWAH SUPER VOLKANO

Alkisah ada seorang petani yang rajin sekali dan bernama Toba.  Dia mendapatkan seekor ikan yang besar ketika memancing.  Ikan tersebut akhirnya menjelma menjadi seorang wanita yang cantik luar biasa yang kemudian menjadi istri petani tersebut dengan satu syarat bahwa Toba tidak boleh menyinggung asal usul istrinya yang menjelma dari ikan.  Singkat cerita mereka akhirnya dikaruniai seorang anak yang pada suatu hari disuruh ibunya untuk mengantarkan nasi kepada ayahnya di ladang.  Namun di tengah perjalanan si anak tadi memakan hampir seluruh nasi yang seharusnya diantar kepada ayahnya.  Mengetahui hal ini Toba pun marah besar dan tanpa sadar memukul anaknya sambil mengatakan “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!” Sang anak pun akhirnya menceritakan perlakukan dan perkataan kasar si ayah kepada ibunya.  Alangkah terkejut si Ibu begitu mengetahui bahwa suaminya telah melanggar sumpah untuk tidak mengatakan asal usul dirinya.  Ibu dan anak tadi akhirnya memutuskan melompat ke dalam sungai dan berubah menjadi ikan.  Toba, si petani itu pun menyesal mendapati istri dan anaknya telah berubah menjadi ikan serta mencoba menyusul mereka.  Namun hujan besar akhirnya membuat air sungai meluap dan menenggelamkan kampung Toba dan berubah menjadi danau.  Dalam versi cerita rakyat yang lain disebutkan kalau di tempat Ibu dan anak berpijak terakhir menyembul mata air yang akhirnya menenggelamkan desa sehingga menjadi danau.

Itu sekilas legenda tentang asal muasal Danau Toba, danau vulkanik terbesar di Nusantara dan Asia Tenggara.  Pagi itu saya dan keluarga berikut dengan abang saya dan keluarganya dari Lembang menuju ke Danau Toba.  Kami sengaja memilih rute melewati perkebunan Teh di Sidamanik lalu melalui Tanjung Unta dan selanjutnya mengarah ke Parapat. 

Setelah photo hunting di wilayah perkebunan Teh Sidamanik (baca: Postcard dari Sidamanik, Simalungun), kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Unta.  Perjalanan dari Sidamanik menuju Tanjung Unta hanya sekitar 15 menit dan kami pun sudah dapat melihat panorama yang mengagumkan.  Luar biasa indahnya Danau Toba pagi itu dari Tanjung Unta.  Tanjung Unta sendiri, sebagaimana namanya, adalah daratan yang menjorok ke danau dengan bentuk yang mirip seperti Unta yang sedang duduk beristirahat.  Terletak di Kabupaten Simalungun, Tanjung Unta merupakan salah satu tempat untuk dapat melihat keindahan Danau Toba.  Seingat saya dalam kunjungan sebelumnya di tahun 2008 sudah ada beberapa penginapan di Tanjung Unta, bahkan langsung di pinggir Danau Toba.  Namun kala itu jalan menuju ke tepian Danau Toba di Tanjung Unta ini cukup terjal plus curam dan masih tanah (belum di aspal) sehingga bila hujan akan sulit untuk naik kembali ke atas.







Matahari mulai tinggi di langit biru.  Pertanda Tuhan merestui perjalanan ini.  Begitu saya membatin, karena selama 2 – 3 hari terakhir hujan terus menerus membombardir daerah Simalungun termasuk Danau Toba.  Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju Parapat, kota wisata yang selalu menjadi tujuan para wisatawan untuk menikmati keindahan Danau Toba.  Saya memperkirakan perjalanan ke Parapat dari Tanjung Unta ini memakan waktu sekitar 45 – 60 menit.  Dalam perjalanan menuju Parapat, saya dan rombongan mendiskusikan sebab musabab Danau Toba secara ilmiah yang menyebutkan bahwa Danau Toba merupkan peninggalan gunung supervolcano yang bernama Toba.  Dalam ulasan yang dimuat di salah satu harian nasional sebagai laporan ekspedisi cincin api, penelitian para ahli vulkanologi, Danau Toba terbentuk dari letusan Gunung Toba, gunung api purba yang berukuran super besar atau dikenal dengan sebutan Super Volkano.  Letusan tersebut diperkirakan berlangsung sekitar 73.000 – 75.000 tahun yang lalu dan menghasilkan kaldera yang akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.  Letusan berlangsung selama 1 minggu dan menyebabkan hampir sebagian Bumi tertutup oleh debu vulkaniknya.  Kejadian ini akhirnya menyebabkan kematian massal dan pada beberapa spesies malah menyebabkan kepunahan.  Menurut bukti DNA, letusan ini juga membuat jumlah populasi manusia pada kala itu berkurang sebesar 60%.  Beberapa ahli vulkanologi menyakini bahwa material letusan Gunung Toba terbawa hingga ke Kutub Utara.  Bila letusannya menghasilkan kaldera yang akhirnya menjadi danau, maka tekanan magma dari dalam perut Bumi menyebabkan terbentuknya Pulau Samosir, pulau yang terletak di tengah Danau Toba.

Itulah sekelumit tentang Danau Toba.  Memandang Danau Toba memang tak pernah bosan, apalagi jemu.  Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam perjalanan dari  Pematang Siantar melalui Sidamanik dan Tanjung Unta, kami pun akhirnya memasuki kota wisata Parapat dan  langsung mencari rumah makan Padang untuk bersantap siang.  Rumah makan Padang yang kami pilih untuk menyelesaikan urusan perut ini terletak di luar kawasan wisata Parapat dan berada di jalan lintas sumatera.  





































Usai bersantap siang, kami pun segera memasuki kawasan wisata.  Anda akan dipungut biaya atau retribusi ketika memasuki kawasan wisata Parapat.  Untuk kenderaan roda empat per unitnya membayar Rp25.000,00 sementara kendaraan roda dua sebesar Rp10.000,00 per unitnya.  Suasana kawasan wisata lumayan ramai, terutama yang memilih menyeberang ke Pulau Samosir tanpa melalui Pelabuhan Penyeberangan Ajibata.  Menurut informasi dari kerabat yang beberapa hari sebelumnya menyeberang melalui pelabuhan tersebut, mereka mengalami kemacetan yang cukup parah ketika akan keluar dari Ajibata menuju Parapat untuk selanjutnya pulang ke Medan.  Kami pun akhirnya sepakat melakukan penyeberangan tidak melalui Ajibata dan menggunakan jasa penyeberangan yang tidak jauh letaknya dari pintu masuk kawasan wisata.  Sudah banyak mobil yang parkir di tempat ini. 



Penyeberangan dengan ferry ke Pulau Samosir normalnya ditempuh dalam waktu   1 jam dengan biaya tiket sebesar Rp20.000,00 per orang untuk perjalanan pulang pergi Parapat – Samosir – Parapat.  Setelah menunggu ferry penuh penumpang selama 1 jam lebih serta hilir mudik beberapa kali mengangkut penumpang di beberapa lokasi, akhirnya kami pun berangkat menuju Pulau Samosir.  Pengemudi ferry di awal keberangkatan telah mengumumkan bahwa dalam perjalanan menuju ke Pulau Samosir, ferry yang kami naiki ini akan singgah di objek wisata Batu Gantung.  Cuaca yang tadinya cerah mulai berubah menjadi berawan ketika perjalanan menyeberang ke Samosir dimulai.  Saya berdoa semoga kami tidak kehujanan dalam perjalanan menuju ke Samosir dan sesampainya di sana, karena acara bisa gagal total.  30 menit berlalu, pengemudi ferry pun menginformasikan bahwa objek wisata Batu Gantung dapat dilihat disebelah kanan kami.  Awalnya yang terlihat hanya dinding batu dengan ukuran super besar yang berada pada punggung bukit di pinggiran Danau Toba.  Saya pun coba memperhatikan detailnya dengan bantuan lensa Tamron 18-270mm VC DiII PZD yang terpasang di gear EOS 500D dan objek Batu Gantung pun akhirnya dapat terlihat lebih jelas.
Masyarakat disekitar Danau Toba mempercayai bahwa Batu Gantung tersebut dahulunya adalah perwujudan seorang puteri cantik dengan seekor anjing peliharaannya.  Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, dahulu kala di lembah Danau Toba yang subur dan indah terdapat satu keluarga yang memiliki anak gadis yang cantik jelita bernama Seruni.  Sehari – harinya Seruni selalu didampingi oleh anjing peliharaannya, Toki.  Singkat cerita, orang tua Seruni menginginkan anaknya untuk menikah dengan pemuda pilihan mereka namun Seruni sendiri ternyata sudah punya pilihan lain.  Dia ingin sekali membahagiakan kedua orang tuanya namun dia telah mengikat janji dengan pemuda lain, pemuda yang dia cintai, untuk sehidup semati.  Dalam kebingungan tersebut, Seruni berencana untuk bunuh diri dengan melompat ke Danau Toba. Seruni pun melangkah ke tepi Danau Toba yang bertebing curam namun tanpa disangka dia terperosok ke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang.  Toki, anjing peliharaannya, ingin sekali menolong majikannya.  Namun dia tidak dapat berbuat apa – apa selain menggonggong di mulut lubang batu tersebut.  Sementara Seruni di dasar lubang batu yang dalam tadi merasakan dinding – dinding batu seolah – olah merapat dan mulai merapat menghimpit dirinya.  Akhirnya dia pun pasrah dan memilih untuk mati saja.  Seruni menyeru kepada batu cadas tadi untuk menghimpit dirinya.  Parapat...parapat batu....parapat.  Begitu ujarnya dalam bahasa batak untuk memerintahkan batu merapat dan menghimpit dirinya.  Lubang batu akhirnya pun menelan tubuh Seruni dan setelah itu terlihat batu yang menggantung di dinding cadas.  Begitulah sekelumit cerita masyarakat mengenai asal usul Batu Gantung dan asal mula nama kota Parapat.




































Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari area wisata Batu Gantung, kami pun akhirnya merapat di Tomok, salah satu tempat yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan bila berkunjung ke Pulau Samosir.  Apa saja yang kami lakukan di sini ?  Nah ini dia beberapa hal yang bisa anda lakukan selama di Tomok:
1.    Mencari oleh – oleh khas Danau Toba  
Begitu menginjakkan kaki di Tomok, saya dan rombongan pun disambut berbagai macam oleh – oleh khas Parapat atau Danau Toba.  Anda yang ingin mencari buah tangan dari daerah ini memang sebaiknya mencarinya disini.  Begitu banyak yang bisa anda pilih mulai dari pintu masuk pasar wisata di Tomok ini seperti ikan khas Danau Toba, ikan Bilis.  Selain itu tentunya pernak – pernik khas Parapat atau Danau Toba, seperti miniatur rumah adat suku Batak Toba, gantungan kunci, dompet kulit, t-shirt, baju batik, tas, gelang, kalung dengan motif Batak Toba hingga ke aksesoris seperti penanggalan kuno suku Batak Toba, tongkat dengan ukiran khas Batak Toba dan patung – patung khas Batak Toba.  


Begitu banyak pilihan disini.  Anda tinggal menyesuaikan saja dengan budget anda setelah memilih buah tangan apa yang memang anda inginkan untuk dibawa pulang.  Salah satu kuncinya adalah pintar – pintarlah menawar harga dengan pedagang setempat.  Dulu sempat beredar cerita kalau para pedagang disini tidak suka kalau anda sekedar menawar dan melihat – lihat barang dagangan mereka tanpa membeli apapun dari mereka.  Namun, ternyata cerita tersebut sama sekali tidak benar.  

Untuk anda yang menyukai buah Mangga, Parapat dan Tomok juga menawarkan Mangga yang lain dari biasanya.  Mangga Udang namanya.  Bentuknya tidak begitu besar bahkan cendrung kecil bila dibandingkan dengan mangga - mangga yang lain, seperti Mangga Indramayu, Mangga Harum Manis atau Mangga Manalagi.  Rasanya ? Ada manis sekaligus ada rasa asamnya juga.  Tertarik untuk membelinya sebagai buah tangan ?  Yang pasti, anda harus jeli memilih Mangga Udang ini.  Karena pengalaman saya membuktikan kadang - kadang Mangga Udang busuk di dalamnya walaupun tampilan luarnya bagus karena terkena penyakit yang disebabkan lalat buah.


2.  Menonton Tarian Sigale – Gale
Lokasi tempat digelarnya Tarian Sigale – Gale tidak jauh dari pasar wisata Tomok.  Dibeberapa tempat malah terdapat rambu pemberitahuan lokasi Sigale – Gale ini.  Anda juga dapat menanyakannya kepada pedagang atau penduduk setempat yang akan senang hati menunjukkan tempatnya kepada anda.  Menurut pantauan saya setidaknya ada 2 tempat yang menggelar tarian dengan menggunakan media patung ini dan jaraknya juga tidak berjauhan.  Silahkan memilih salah satunya atau bisa juga menikmati kedua – duanya.  Saya dan rombongon terlebih dahulu membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang.  Anak – anak dibawah 2 tahun gratis.
 
Sigale – gale secara etimologis berarti yang lemah gemulai.  Sigale – gale adalah patung yang menyerupai manusia dan mengenakan pakaian khas Batak Toba berikut dengan ulos, kain khas Batak Toba yang disampirkan di bahu.  Ada beberapa versi tentang asal muasal Sigale – gale ini.  Menurut salah satu versi legenda yang beredar dahulu kala terdapat sebuah kerajaan di sekitar pegunungan Desa Lumban Suhi dan dipimpin oleh keturunan Raja Batak bernama Raja Rahat.  Raja Rahat memiliki anak yang bernama Raja Manggele yang sangat dia sayangi.  Namun ketika berperang, Raja Manggele terkena panah dan akhirnya meninggal dunia.  Raja Rahat sangat frustasi karena sangat kehilangan putera tercinta.  Singkat cerita, ada 7 orang datu atau dukun besar pada waktu itu yang bersedia membuatkan patung dari kayu pokki atau kayu ulin yang meniru wajah si Raja Manggele.  Melalui prosesi yang panjang dan magis, akhirnya mereka dapat menyelesaikan pembuatan patung tersebut dan dengan bantuan tetabuhan dari Gondang Bolon mereka memanggil arwah Raja Manggele untuk masuk kedalam patung tersebut sehingga patung kemudian bergerak dan manortor.  Raja Rahat sangat senang sekali dan bahagia ketika melihat pertunjukkan tersebut.  Akhirnya setiap kali sang Raja rindu kepada anaknya, dia pun menggelar tarian Sigale – gale ini. (Sumber: http://sigalegale-forum.blogspot.com/2012/04/legenda-sigale-gale.html)

Saat ini pertunjukkan Sigale – gale sudah tidak lagi menggunakan gondang dan alat musik lainnya secara live namun sudah digantikan dengan alunan dari tape recorder untuk alasan kepraktisan.  Dalam pertunjukkan yang saya saksikan, sedikitnya ada 4 – 6 orang anak – anak yang menari atau manortor bersama dengan patung Sigale – gale.  Anak – anak tersebut memakai ulos dan mengajak para penonton untuk manortor.  Buat para penonton yang akhirnya setuju untuk manortor dengan mereka harus bersiap – siap menyiapkan lembaran rupiah untuk kemudian diselipkan di jemari anak – anak tersebut.

 3.  Mengunjungi Situs Kuburan Tua Raja Sidabutar 
Tak jauh dari lokasi pertunjukkan tarian Sigale – gale, ada sebuah situs kuburan tua yang wajib dikunjungi di Tomok.  Namanya adalah Situs Kuburan tua Raja Sidabutar.  Tidak sembarang untuk dapat masuk ke dalam situs makam ini.  Anda harus mengikuti beberapa syarat yang telah ditentukan oleh pengelola, salah satunya adalah menggunakan Ulos ketika memasuki kawasan makam.  Jangan khawatir, pengelola sudah menyediakan Ulos di pintu masuk untuk anda kenakan.  Sebagai kompensasinya, anda cukup membayar seiklasnya dengan memasukan sumbangan ke dalam tabung  / kotak yang telah disediakan pengelola.  



































Terletak di tengah – tengah pasar wisata Tomok yang menjual aksesoris khas Toba, situs makam tua Raja Sidabutar ini sungguh eye catching karena terletak di tengah dan dikelilingi oleh kios penjaja suvenir.  Terdapat beberapa pohon besar dan mungkin sudah berusia ratusan tahun, situs makam ini terdiri dari beberapa bagian.  Bagian dalam situs terdapat makam raja – raja Sidabutar sementara di bagian depan situs, tepatnya diluar tembok yang membatasi makan para raja, terdapat beberapa patung kecil yang merupakan para pengawal dan bangsawan. Menurut informasi dalam situs http://sidabutar.info/2012/05/04/legenda-makam-raja-sidabutar/ para pengawal dan bangsawan tersebut digambarkan sedang menggelar ritual pemanggilan hujan dengan iringan musik gondang.  

Raja Sidabutar sendiri dipercaya sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Samosir.  Dia dipercaya sebagai orang punya kesaktian yang cukup mumpuni.  Sedikit sekali informasi yang dapat diperoleh mengenai Raja Sidabutar ini, termasuk di internet sekalipun.  Setidaknya terdapat 10 sarkofagus di dalam kawasan makam tua ini, mulai dari ukuran yang kecil hingga yang besar.  Pada sarkofagus terbesar terlihat ukiran wajah yang cukup jelas, baik di bagian depan maupun belakang makam.  Wajah di bagian depan adalah penggambaran wajah Raja Sidabutar, sementara wajah yang lebih kecil di bagian belakang sarkofagus adalah penggambaran Boru Damanik, permaisuri Raja Sidabutar.  Sementara ukiran lelaki yang duduk di bawah wajah Raja Sidabutar adalah panglima kepercayaan Raja Sidabutar, Guru Saung Lang Meraji, yang berasal dari Pakpak Dairi. 

Menurut penuturan pengelola, dari sekian banyak sarkofagus di kawasan makam tua tersebut, yang paling tua adalah makam yang ukurannya tidak terlalu besar dan ukirannya juga sudah terlalu jelas terlihat.  Makam ini dipercaya sebagai makam Raja Sidabutar pertama.  Sementara makam dengan sarkofagus terbesar adalah makam Raja Sidabutar kedua.  Baik Raja Sidabutar pertama dan kedua merupakan penganut kepercayaan Parmalim, kepercayaan masyarakat Batak Toba sebelum datangnya agama Kristen.  Sementara Raja Sidabutar ketiga sudah menganut agama Kristen. 

4.    Bertamu ke Museum Batak 
Museum ini jaraknya hanya sekitar 150 meter saja dari kawasan makam kuno Raja Sidabutar.  Terdapat papan nama museum di sudut halamannya dan terdapat pula bangunan rumah adat Batak Toba yang difungsikan sebagai museum.  Saya tidak sempat melongok lebih jauh ke dalam museum dan melihat lebih jauh koleksinya karena keburu turun hujan sehingga saya pun tergopoh – gopoh menyelamatkan kamera serta barang bawaan yang lain.
Setelah puas mencari – cari buah tangan di Tomok serta hujan mulai turun, kami pun segera bersiap – siap untuk kembali ke Parapat dengan menggunakan ferry.  Untunglah, ferry yang kami naiki tadi masih sandar namun sudah penuh.  Atas kebaikan pengemudi ferry, saya dan rombongan pun boleh ikut serta menyeberang ke Parapat dengan menumpang di ruang kemudi.  Walaupun kondisi seadanya dan harus lesehan di lantai ferry, namun menurut saya ini adalah pilihan yang tepat karena bila harus menunggu 1 jam lagi untuk menyeberang ke Parapat kami pasti akan kehujanan.
Hujan akhirnya menyambut saya dan rombongan sewaktu tiba di Parapat.  Alhamdulillah, batin ini pun memanjatkan syukur dan puji ke hadirat Robbi, yang telah memberikan kesempatan pada saya dan rombongan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian jalan – jalan di Tanah Batak ini.  Wajah – wajah letih pun akhirnya memilih untuk memejamkan mata sepanjang perjalanan dari Parapat menuju Siantar.  Dalam batin saya bersenandung.....

O Tano Batak...
Haholongakku
Sai Na Malungun
Do Au Tuho

Ndang Olo Modom
Ndang Nok Matakku
Sai Namasihol Do Au
Sai Naeng Tu Ho

O Tano Batak...
Sai Naeng Hutatap
Dapothonokku
Tano Hagodangakki

O Tano Batak..
Andigan Sahat
Au On Naeng Mian Di Ho
Sambulokki