Sabtu, 12 Januari 2013

LAWANG SEWU, SERIBU PINTU DENGAN SERIBU KISAH


Undangan kunjungan kerja dari salah satu kantor wilayah tempat saya bekerja begitu menyenangkan hati.  Ini adalah kesempatan pertama saya untuk mengunjungi Semarang.  Mudah – mudahan ada kesempatan untuk berjalan – jalan di kota yang terkenal dengan bandeng presto dan lumpia-nya ini di sela – sela pekerjaan yang seabrek – abrek banyaknya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 55 menit dengan menggunakan maskapai plat merah, pagi itu saya pun telah berada di jalanan kota Semarang.   Dalam perjalanan dari bandara Achmad Yani ke hotel tempat menginap, kami pun melewati bangunan besar bergaya kolonial dan memiliki banyak jendela.  Anggun sekali dan mirip kantor pusatnya PTPN IV yang berada di Medan.  Teman dari Cabang Semarang yang turut menjemput saya mengatakan bangunan itu adalah Lawang Sewu, salah satu ikon kota mereka.  Cerita mistis yang menyelimuti gedung seribu pintu ini pun sudah sering saya dengar, malah ada yang menyampaikan kalau gedung ini tidak hanya dikenal dengan gedung seribu pintu, namun juga seribu hantu.  Alangkah menyenangkan bila berkesempatan untuk mengunjungi gedung yang satu ini sekaligus mengabadikannya dengan Canon EOS 500D, teman perjalanan yang setia mendampingi saya.  Itu pun kalau ada waktu serta kesempatan.






































3 hari berkutat dengan pekerjaan, akhirnya seluruhnya bisa diselesaikan dengan baik.  Hari terakhir sebelum pulang ke Jakarta di jam 13.20 WIB ini saya pergunakan untuk mencari buah tangan khas Semarang serta kunjungan ke Lawang Sewu.  Awalnya saya berniat ingin mengunjungi beberapa tempat bersejarah di Semarang, seperti kawasan kota lama dan Klenteng Sam Po Kong, namun karena keterbatasan waktu cukuplah Lawang Sewu menjadi penyejuk hati sebelum kembali ke Jakarta.

Lawang Sewu, gedung seribu pintu dengan berbagai cerita mistis yang melatarinya adalah  bekas kantor pusat Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, jawatan kereta api Belanda yang beroperasi di Semarang.  Dirancang oleh Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, arsitek yang berdomisili di Amsterdam pada tahun 1903, pembangunan gedung ini dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada 01 Juli 1907.   Gedung ini pun menjadi saksi bisu perjalanan perjuangan bangsa ini dalam meraih kemerdekaannya.  Bila dimasa penjajahan Belanda gedung ini difungsikan sebagai kantor pusat jawatan kereta api, maka ketika Jepang menduduki Republik ini di tahun 1940-an gedung ini diperuntukkan sebagai markas Kempetai, Polisi Militer Jepang yang terkenal sadis dan kejam,  serta Kidobutai, tentara kerajaan Jepang.  Gedung ini pun tercatat sebagai lokasi pertempuran hebat selama 5 hari antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA), BKR, AMRI dan beberapa organisasi kepemudaan lainnya dengan Kempetai dan Kidobutai yang dimulai pada 15 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang yang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.   Setelah kemerdekaan gedung ini dipakai sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia, lalu Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan.  Saat ini Lawang Sewu sedang direnovasi dan direvitalisasi oleh Unit Pelestarian Benda dan Bangunan PT KAI.  Beberapa ruangan  bahkan telah difungsikan sebagai ruang peraga museum kereta api.



Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp30.000,00 untuk 3 orang dewasa plus Rp30.000,00 untuk tour guide, saya pun memulai berkeliling di gedung yang sarat sejarah ini.  Walaupun siang hari, namun saya pribadi merasakan suasana yang berbeda.  Menyeramkan.  Mungkin itulah kata – kata yang tepat mewakili apa yang saya rasakan siang itu.  Tidak terbayangkan keadaannya di malam hari.  Secara umum terdapat 4 gedung di kawasan Lawang Sewu ini, yang pertama adalah gedung A yang merupakan gedung yang dapat anda lihat dari jalan.  Menurut tour guide yang mendampingi kami, gedung ini masih tertutup untuk umum karena masih dilakukan renovasi.  Tampilan luarnya sudah cukup baik dan terawat. 










































Gedung kedua adalah Gedung B.  Gedung ini pun sebenarnya belum pulih benar dari renovasi dan revitalisasi yang dilakukan, namun sudah difungsikan dan terbuka untuk umum.  Entah kenapa, ketika melangkahkan kaki ke dalam gedung ini tiba – tiba saja bulu kuduk saya meremang dan nafas saya menjadi berat malah agak sedikit sesak.  Seperti ada gelombang elektromagnetik dalam skala besar yang tidak kasat mata di depan saya.  Namun, mungkin itu hanya perasaan saya saja.  Lorong di depan gedung B ini sudah bersih dengan jendela – jendela tinggi dan besar menghiasinya.  Di dalamnya beberapa ruangan telah difungsikan sebagai ruang pamer untuk foto – foto jadul tentang sejarah perkereta apian bangsa ini.  Selain itu pula terdapat maket Lawang Sewu yang dapat anda lihat disini.  Iseng saya bertanya kepada pemandu kami, apakah memang pintu di Lawang Sewu ini berjumlah 1000 ?  Sang Pemandu pun menjawab dengan yakin kalau tidak berjumlah 1000 maka tidak dinamakan Lawang Sewu.  Namun menurut beberapa informasi di situs internet tidak ada yang mengetahui pasti jumlah pintu di Lawang Sewu.  Saya berpikir angka 1000 atau sewu disini mungkin dimaksudkan untuk menyebutkan bahwa jumlah pintu di tempat ini buaaannyyaaakk sekali. Jadi, simpelnya dikatakan sewu saja.



































Sang pemandu pun mengatakan kepada saya dan rombongan kalau di bawah gedung ini terdapat terowongan yang awalnya berfungsi untuk membuat ruangan yang berada di atasnya menjadi lebih sejuk yang kemudian berubah fungsi menjadi penjara di kala pendudukan Jepang.  Saya kemudian ingat kalau terowongan atau ruangan bawah tanah itu pernah digunakan oleh salah satu reality show televisi swasta untuk lokasi uji nyali.  Setelah puas melihat – lihat di lantai 1, saya dan rombongan pun diajak untuk melihat ruangan yang berada di lantai 2.  Namun sebelum menaiki tangga menuju ke lantai 2, Sang Pemandu mengajak kami untuk melihat ruang atau celah sempit ke terowongan atau ruang bawah tanah yang sebelumnya diceritakan.  Celah sempit tersebut berada di bawah tangga dan tidak begitu mencolok keberadaannya.  Tiba – tiba saya merasakan terpaan gelombang yang tak kasat mata menghantam badan ini.  Bau pengap yang khas pun serta merta sampai di hidung saya, bersamaan dengan terpaan gelombang tadi.  Tour Guide kami menawarkan apabila ingin merasakan sensasi uji nyali, maka kami boleh turun ke dalam terowongan atau ruangan bawah tanah dari pintu yang sudah disediakan di bagian belakang dari gedung ini.  Ehm, tawaran yang menarik, namun sepertinya tidak sempat karena waktunya mepet.    








































Suasana di lantai 2 ini pun ternyata lebih menyeramkan dibandingkan suasana di lantai 1.  Tekanan dan himpitan saya rasakan lebih berat.  Kepala saya tiba – tiba sakit dan pundak saya pun terasa berat.  Mata saya pun tiba – tiba tertuju kepada lorong panjang di lantai 2 ini dan merasakan kengerian yang luar biasa.  Saya saja sempat heran dengan suasana hati saya yang tiba – tiba berubah dengan merasakan kengerian yang luar biasa itu.  Entah darimana datangnya perasaan itu, namun ketika sekali lagi memaksakan untuk melihat lorong ini, perasaan saya semakin gulana dan sedih luar biasa.  Menurut pemandu kami, mereka biasa menyebut lorong tersebut dengan lorong misteri.  Dari pengakuan beberapa pengunjung yang cukup sensitif dan memiliki kemampuan supranatural, lorong ini berisi korban – korban pembantaian yang tidak dapat beristirahat dengan tenang.     



Kami pun melanjutkan berkeliling ke arah luar atau lorong di lantai 2 ini.  Tour guide kami menunjukkan beberapa tempat yang biasa dipergunakan pengunjung untuk berfoto.  Salah satunya adalah skycross antara gedung B ke gedung A.  Dengan latar belakang gedung A yang menawan, di lokasi ini saya dan teman – teman memutuskan untuk berfoto sejenak.  Selain skycross, lorong di lantai 2 pun spot yang menarik untuk diabadikan.  Beruntung sang pemandu berbaik hati untuk mengabadikan pose – pose saya dan teman – teman yang bak model dengan kamera DSLR saya.  Dia pun kemudian menunjukkan lorong yang disebut sebagai lorong kereta api, dimana pintu – pintu ruangan di lantai 2 gedung B ini seperti berbaris memanjang ke belakang.  Wah angle dengan komposisi menarik untuk difoto nih, begitu ujar saya membatin.  




























Setelah lorong kereta api tadi, kami pun kembali ke lorong misteri.  Di sini saya berkesempatan untuk mengabadikan arsitekturnya yang kuno, menawan dan misteri.  Tour guide kami pun kemudian membawa kami ke ruangan besar dan panjang di lantai 2 ini.  Dahulunya dipergunakan oleh petinggi – petinggi Belanda sebagai ruang dansa.  Namun, entah kenapa, saya merasa ruang ini dingin dan mencekam.  Saya merasakan sepertinya ruangan ini dahulunya dipergunakan untuk pembantaian dan penyiksaan.  Tidak ada keceriaan pesta dansa yang tersisa di ruang ini.  Yang ada hanyalah tubuh – tubuh terbujur kaku, jeritan dan tangisan.  Entah bagaimana dan darimana saya tiba – tiba mendapati gambaran itu melintas di benak saya.  Dan anehnya, si pemandu pun membenarkannya.  Ruangan ini di jaman Jepang dipergunakan untuk ruangan penyiksaan dan pembantaian orang – orang Belanda yang tertangkap serta para gerilyawan  dan pejuang kemerdekaan.  Selanjutnya kami pun dibawa ke bagian belakang dari ruangan ini.  Terdapat tangga untu menuju ke loteng gedung.  Sekali lagi, saya kembali terkesiap secara tiba – tiba.  Ada perasaan yang mencekam luar biasa yang saya rasakan ketika memandang ke arah loteng.  Entah bagaimana dan darimana, saya seperti berhalusinasi mendengar teriakan, jeritan dan tangisan.  Begitu menyayat hati.  Sang pemandu menawarkan diri untuk mendampingi kami ke atas apabila kami berkenan.  Saya dan teman – teman sepakat untuk menyudahi tur di lantai 2 ini dan memilih turun ke lantai 1.  Toh, waktu sudah cukup mepet karena harus sholat Jumat dan kemudian mengejar pesawat di jam 13.20 WIB. 









































































Sebelum mengakhiri perjalanan berkeliling di Lawang Sewu, khususnya di Gedung B, tour guide kami mengajak ke salah satu ruangan yang letaknya di bagian belakang gedung B dan berada di lantai 1 yang dipergunakan untuk menuju ke ruangan bawah tanah atau terowongan.  Mata saya tertuju kepada pengumuman yang tertempel di dinding ruangan yang melarang seluruh kegiatan yang berbau mistis dilakukan di areal Lawang Sewu.  Disebelah pengumuman tersebut terdapat pintu dengan anak tangga yang menuju ke bawah.  Pengap sekali udara di sekitar tempat ini.  Beberapa pengunjung baru saja keluar dari pintu itu dan menggunakan sepatu bot tinggi sebetis untuk menerobos genangan air yang tingginya sekitar 20 – 25 cm. 









































Gedung ketiga di areal Lawang Sewu adalah Gedung C.  Ukurannya lebih kecil bila dibandingkan dengan Gedung A dan Gedung B.  Gedung C sendiri telah direnovasi dan dipergunakan sebagai museum kereta api.  Anda dapat membaca sejarah gedung Lawang Sewu ini ketika memasuki pintu depan gedung ini.  Gedung ini terdiri dari beberapa ruangan, dimana ruangan utamanya yang luas dipergunakan sebagai ruang pamer beberapa photo berukuran poster dan tertempel di dindingnya serta beberapa peralatan pengatur rel atau jalur kereta api kuno peninggalan Belanda.  Ruang lainnya lebih kecil namun saya tidak sempat untuk melihatnya karena keterbatasan waktu kunjungan kami.  Secuil cerita misteri yang boleh dipercaya atau tidak dari pemandu kami adalah penguasa gaib areal Lawang Sewu terdapat di Gedung C ini, bersosok bule Belanda dan bernama Van den Bosch.  Masih menurut tour guide yang mendampingi kami, untuk penghuni gaib di areal Lawang Sewu memiliki kasta – kasta dimana kasta tertinggi menghuni Gedung C.  Entah karena lebih berpendidikan atau karena memang tampilan yang lebih bersahabat hasil renovasi, Gedung C ini sama sekali tidak seram dan mencekam.  Berbeda jauh auranya dengan Gedung B yang mencekam dan penuh misteri.  







































































Lawatan kami di Lawang Sewu pun ditutup dengan mengunjungi toilet jadul peninggalan kolonial.  Secara umum toilet ini sudah selesai direnovasi dan tampilannya sudah lebih rapi serta bersahabat.  Terdapat 4 washtafel kuno segi empat berukuran besar di kiri dan kanan sisi dinding toilet.  Teman – teman saya menyempatkan untuk mencuci tangan dan membasuh wajah mereka di sini.   Selain washtafel, di toilet ini juga anda akan mendapati urinoir jadul terbuat dari keramik dengan ukuran besar dan tinggi bila dibandingkan dengan urinoir jaman sekarang ini.  Sekali lagi, walaupun telah direnovasi sedemikian rupa sehingga tampilannya lebih layak dan bersahabat, namun kesan seram masih lekat di toilet ini. 










































































Di akhir kunjungan saya merasakan kepala saya semakin pusing, pundak terasa berat dan punggung panas tidak karuan.  Begitu pun, saya berencana kembali lagi ke Lawang Sewu bila ada kesempatan mengunjungi Semarang untuk bisa menggali sejarahnya lebih banyak lagi. 



Terima kasih kepada Bapak Moegiyarto dan Nadya Permata Putri yang telah bersedia menerima ajakan untuk berkeliling di gedung seribu pintu, Lawang Sewu.