Minggu, 27 Januari 2013

TAFAKUR DI MESJID AGUNG JAWA TENGAH, SEMARANG

Berkunjung ke kota Semarang tanpa mampir dan sholat di Mesjid Agung Jawa Tengah, Semarang, sepertinya kurang afdol.  Jadilah di siang yang terik itu, saya beserta rombongan dari Jakarta, dengan ditemani oleh Kepala Cabang  kantor saya di Semarang, Bapak Ahmad Zailani, berangkat menuju Mesjid Agung Jawa Tengah yang lebih sering disebut MAJT.  Saya sendiri terprovokasi oleh salah satu artikel yang pernah dimuat di Majalah Chip Foto Video yang menceritakan kemegahan serta keunikan mesjid ini.  Selain tempat ibadah, mesjid ini telah ditasbihkan salah satu spot fotografi yang wajib disambangi bila berada di Semarang.  Disela – sela tumpukan pekerjaan saya berusaha untuk memprovokasi anggota rombongan yang lain agar bersedia untuk menyempatkan langkah ke MAJT ini. 



Perjalanan ke MAJT sendiri ternyata menghabiskan waktu sekitar 45 menit.  Lumayan memakan waktu namun worthed lah.  Dari Wikipedia saya peroleh informasi bahwa sejarah pembangunan mesjid ini sendiri pun tak kalah uniknya bila dibandingkan dengan arsitekturnya yang merupakan gabungan dari budaya Jawa, Timur Tengah dan Romawi.  Dibangun di atas lahan seluas 10 ha, proses penyelesaian pekerjaannya dari mulai peletakan batu pertama oleh Menteri Agama Said Agil Siraj hingga diresmikan oleh Presiden SBY memakan waktu kurang lebih 4 tahun dengan berbiaya sebesar Rp198 Milyar.  Lahan tempat dibangunnya MAJT merupakan tanah wakaf milik Mesjid Besar Kauman Semarang yang sempat raib entah kemana akibat adanya tukar guling dengan tanah seluas 250 ha di Demak. Maksud tukar guling itu sendiri adalah untuk memberdayakan aset mesjid yang awalnya dinilai tidak produktif.  Setelah melalui proses yang panjang akhirnya tanah wakaf tersebut dapat dikuasai kembali dan dibangunlah MAJT.

Memasuki gerbang depan saya dan rombongan disambut undakan tangga dan pilar – pilar yang berjumlah 25 pilar yang menyimbolkan jumlah rasul.  Sejenak pilar – pilar itu mengingatkan saya akan bangunan koloseum di jaman Romawi.  Di pelataran mesjid sendiri terdapat 6 payung raksasa elektrik, seperti yang ada di Mesjid Nabawi.  Sayang sekali, ketika kunjungan saya payung tersebut tidak dioperasionalkan.  Menurut petugas parkir di area MAJT, payung dibuka seminggu sekali ketika menggelar sholat Jumat.  Selain itu juga payung bakal dioperasionalkan untuk pelaksanaan sholat Idul Fitri dan Idul Adha dengan catatan kecepatan angin tidak melebihi 200 knot.



Setelah puas mengagumi arsitekturnya dari luar, saya dan rombongan pun memutuskan untuk melongok ke dalam.  Menunaikan sholat Zuhur berjamaah dan merasakan atmosfir kedamaian MAJT bersama rombongan.  Bangunan utamanya sendiri berasitektur Jawa dengan menggunakan atap limas khas bangunan – bangunan Jawa pada umumnya.  Lengkungan jendela dan pintu masuk mesjid terlihat apik dan menyatu dengan arsitektur bangunan utama mesjid. Ruang dalamnya lega sekali dan menurut saya sedikit sekali arsitektur yang berbau Timur Tengah. Dengan luas bangunan utama mencapai 7.669 m2, bangunan dalam mesjid sendiri diklaim dapat menampung jemaah hingga 5.000 orang sementara di halaman depan dengan dipayungi 6 payung raksasa dapat memuat 10.000 orang jemaah.

Selesai melaksanakan sholat Zuhur, saya memutuskan untuk berkeliling di bangunan utama mesjid, termasuk menjelajah ke lantai 2 bangunan utama mesjid.  Di dekat pintu masuk utama anda akan mendapati mushaf Al Quran raksasa dengan ukuran 145 x 95 cm yang ditulis tangan oleh Drs. Hayat dari Pondok Pesantren Al Asyariyyah, Wonosobo.  Beliau menyelesaikan penulisan mushaf tersebut dalam waktu 2 tahun 3 bulan. Tidak jauh dari mushaf raksasa tersebut, anda pun dapat mengagumi benda raksasa lainnya, berupa beduk yang diberi nama Beduk Ijo Mangunsari.  Menurut ceritanya, beduk ini sendiri merupakan replika beduk Pendowo yang ada di Purworejo dengan panjang 310 cm dan diameter 220 cm.  Menurut informasi yang tertera di papan yang berada di depan beduk, beduk ini menggunakan 156 buah paku serta dilapisi kulit lembu asal Australia dan dikerjakan oleh santri dari Pondok Pesantren Al Falah, Banyumas.
Puas mengelana di dalam bangunan utama mesjid, saya dan seorang teman, Bapak Endang Barzah, memutuskan untuk melihat – lihat panorama mesjid agung dan kota Semarang dari atas Menara Asmaul Husna.  Menara ini letaknya tidak jauh dari bangunan utama dan pelataran mesjid agung, namun karena sinar matahari cukup terik siang itu, untuk mencapainya sepertinya dibutuhkan usaha ekstra.  Menara ini memiliki ketinggian 99 meter sehingga diberi nama Asmaul Husna, sesuai dengan banyaknya nama Allah SWT, dan terdapat 19 lantai di dalamnya.  Untuk menaikinya anda harus membayar tiket atau retribusi sebesar Rp5.000,00 mulai usia 3 tahun ke atas sebelum menaiki lift untuk menjelajah di menara ini.  Bila anda ingin melihat perkembangan penyebaran dan peradaban Islam di Semarang dan Jawa Tengah, silahkan mampir ke lantai 2 dan 3.  Untuk anda yang ingin mengisi perut sambil menikmati pemandangan kota Semarang dari ketinggian, singgah saja di lantai 18 dimana restaurant berputar telah menanti anda.  Saya dan Pak Endang langsung memacu lift menuju ke lantai 19, dimana kami bisa menikmati panorama kota Semarang dan mesjid agung dari ketinggian.  Di lantai ini juga terdapat beberapa peralatan yang dipergunakan untuk melihat hilal dan teropong di beberapa sisi namun untuk menggunakannya anda wajib merogoh kocek lagi untuk membayar biaya tambahannya. 


Tidak terasa sudah 1 jam juga kami berkeliling di Mesjid Agung Jawa Tengah ini dan merasakan kemegahan serta keunikannya.  Terima kasih tak terhingga kepada Bapak Ahmad Zailani, pimpinan Cabang di Semarang, yang sudah berkenan membawa saya dan rombongan untuk mengagumi salah satu ikon kota Semarang.