Setelah
menjelajahi Trawangan nan indah dan eksotik, saya pun bergegas untuk menggapai
Meno. Gili atau pulau yang satu ini
berada di depan mata dan tak jauh jaraknya dari Trawangan. Dengan menaiki perahu milik Pak Zul yang
telah disewa seharian untuk berkeliling di Gili Amatra, perjalanan ke Meno dari
Trawangan pun kami tempuh dalam waktu 15 menit.
Walaupun kantuk sempat hinggap tak kala perahu melaju ke Meno, namun
lansekap Meno yang jauh lebih alami dan tak seriuh Trawangan mampu
mengembalikan gairah untuk merayapi pulau kecil ini.
Minggu, 19 Mei 2013
Kamis, 14 Maret 2013
GILI TRAWANGAN, SERPIHAN NIRWANA DI NUSANTARA
Awalnya, tidak ada rencana sama
sekali untuk menginjakkan kaki dan berkelana di Gili Trawangan, pulau kecil
yang tidak jauh dari Pulau Lombok. Itu
semua bermula dari jalan – jalan pagi menyusuri Pantai Senggigi dan akhirnya
bertemu dengan Pak Zul (sebut saja begitu), salah seorang pemilik perahu yang
sandar di tepian Senggigi. Dia
menawarkan paket untuk berkeliling Gili Amatra (Air, Meno dan Trawangan) dalam
1 hari dengan menaiki perahunya. Saya
sudah mencoba menolaknya namun harga yang ditawarkan cukup murah menurut saya,
sekitar Rp600.000 untuk 6 orang dan itu
sudah termasuk perlengkapan snorkling untuk yang berminat menikmati keindahan
bawah laut di Trawangan. Wow...sebuah tawaran yang harus saya diskusikan dengan
teman – teman terlebih dahulu. Dan
akhirnya, setelah memaksa seorang teman untuk ikut serta dalam ekspedisi Amatra
ini, kami pun sudah berada di dalam perahu sederhana milik Pak Zul, siap melaju
ke Gili Trawangan.
Minggu, 27 Januari 2013
TAFAKUR DI MESJID AGUNG JAWA TENGAH, SEMARANG
Berkunjung
ke kota Semarang tanpa mampir dan sholat di Mesjid Agung Jawa Tengah, Semarang,
sepertinya kurang afdol. Jadilah di
siang yang terik itu, saya beserta rombongan dari Jakarta, dengan ditemani oleh
Kepala Cabang kantor saya di Semarang,
Bapak Ahmad Zailani, berangkat menuju Mesjid Agung Jawa Tengah yang lebih
sering disebut MAJT. Saya sendiri
terprovokasi oleh salah satu artikel yang pernah dimuat di Majalah Chip Foto
Video yang menceritakan kemegahan serta keunikan mesjid ini. Selain tempat ibadah, mesjid ini telah
ditasbihkan salah satu spot fotografi yang wajib disambangi bila berada di
Semarang. Disela – sela tumpukan
pekerjaan saya berusaha untuk memprovokasi anggota rombongan yang lain agar
bersedia untuk menyempatkan langkah ke MAJT ini.
Sabtu, 12 Januari 2013
LAWANG SEWU, SERIBU PINTU DENGAN SERIBU KISAH
Undangan kunjungan kerja dari
salah satu kantor wilayah tempat saya bekerja begitu menyenangkan hati. Ini adalah kesempatan pertama saya untuk
mengunjungi Semarang. Mudah – mudahan ada
kesempatan untuk berjalan – jalan di kota yang terkenal dengan bandeng presto
dan lumpia-nya ini di sela – sela pekerjaan yang seabrek – abrek banyaknya.
Sabtu, 17 November 2012
MEULABOH, SISI LAIN KEELOKAN NANGGROE
4 jam menempuh perjalanan sejauh + 245 km cukup melelahkan saya. Namun pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan Banda Aceh hingga Meulaboh ternyata luar biasa. Walaupun sempat terlelap dalam 1 jam perjalanan awal karena kelelahan menempuh perjalanan dari Jakarta – Banda Aceh sehingga saya kehilangan kesempatan menyaksikan indahnya lansekap Pegunungan Groote, namun eksotisnya alam Nanggroe Darussalam ini masih tersisa dari Lamno hingga senja tiba di kaki langit kota Calang, salah satu daerah yang paling parah terpapar tsunami di Desember 2004 lalu.
Label:
MOBIL SAHABAT PETUALANG,
PERJALANAN
| Reaksi: |
Senin, 29 Oktober 2012
DANAU TOBA, KEINDAHAN SI KAWAH SUPER VOLKANO
Alkisah ada seorang petani yang rajin sekali dan
bernama Toba. Dia mendapatkan seekor
ikan yang besar ketika memancing. Ikan
tersebut akhirnya menjelma menjadi seorang wanita yang cantik luar biasa yang
kemudian menjadi istri petani tersebut dengan satu syarat bahwa Toba tidak
boleh menyinggung asal usul istrinya yang menjelma dari ikan. Singkat cerita mereka akhirnya dikaruniai
seorang anak yang pada suatu hari disuruh ibunya untuk mengantarkan nasi kepada
ayahnya di ladang. Namun di tengah
perjalanan si anak tadi memakan hampir seluruh nasi yang seharusnya diantar
kepada ayahnya. Mengetahui hal ini Toba
pun marah besar dan tanpa sadar memukul anaknya sambil mengatakan “Anak kurang
ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang
berasal dari ikan!” Sang anak pun akhirnya menceritakan perlakukan dan
perkataan kasar si ayah kepada ibunya.
Alangkah terkejut si Ibu begitu mengetahui bahwa suaminya telah
melanggar sumpah untuk tidak mengatakan asal usul dirinya. Ibu dan anak tadi akhirnya memutuskan
melompat ke dalam sungai dan berubah menjadi ikan. Toba, si petani itu pun menyesal mendapati
istri dan anaknya telah berubah menjadi ikan serta mencoba menyusul
mereka. Namun hujan besar akhirnya
membuat air sungai meluap dan menenggelamkan kampung Toba dan berubah menjadi
danau. Dalam versi cerita rakyat yang
lain disebutkan kalau di tempat Ibu dan anak berpijak terakhir menyembul mata
air yang akhirnya menenggelamkan desa sehingga menjadi danau.
Label:
PERJALANAN,
Photo Hunting
| Reaksi: |
Sabtu, 06 Oktober 2012
POSTCARD DARI SIDAMANIK, SIMALUNGUN
Sidamanik. Itulah tujuan saya membawa anak istri dan keluarga abang saya yang datang dari Lembang ke Pematang Siantar untuk menikmati libur Lebaran 2012 kali ini. Memang bukan tujuan utama, hanya sekedar tujuan antara saja. Tujuan utama perjalanan kami pagi itu tentu saja Danau Toba dan Pulau Samosir. Istri abang saya yang asli Lembang itu beserta dengan Ichsan dan Iqbal, kedua putera mereka, belum pernah melihat keindahan danau terbesar di nusantara ini, Toba. Jadi, mumpung liburan dan menginap di Pematang Siantar, pagi itu kami sempatkan untuk mencuci mata ke Danau Toba via Sidamanik dan Tanjung Unta. Sengaja saya memilih rute yang agak sedikit memutar dan lebih jauh ini agar dapat menyuguhkan pemandangan alam khas Simalungun kepada tamu dari Lembang tadi.
Langganan:
Entri (Atom)





