Minggu, 09 Juni 2013

GILI AIR, YOUR ISLAND GATEWAY..




































 



Setelah Trawangan dan Meno, saya pun menuju ke gili yang terakhir dalam petualangan hari ini.  Gili Air.  Pulau kecil yang lansekapnya tak jauh berbeda dengan saudaranya, Trawangan dan Meno.  Ditempuh dalam waktu 15 menit, perahu Pak Zul yang membawa saya dari Gili Meno pun mulai memasuki perairan Gili Air.  Bila Meno sepi dan jauh dari gaduh, berbeda dengan Air yang lebih ramai namun masih kalah gaduh bila dibandingkan dengan Trawangan. 

Minggu, 19 Mei 2013

MELUMAT LARA & GULANA DI GILI MENO


Setelah menjelajahi Trawangan nan indah dan eksotik, saya pun bergegas untuk menggapai Meno.  Gili atau pulau yang satu ini berada di depan mata dan tak jauh jaraknya dari Trawangan.  Dengan menaiki perahu milik Pak Zul yang telah disewa seharian untuk berkeliling di Gili Amatra, perjalanan ke Meno dari Trawangan pun kami tempuh dalam waktu 15 menit.  Walaupun kantuk sempat hinggap tak kala perahu melaju ke Meno, namun lansekap Meno yang jauh lebih alami dan tak seriuh Trawangan mampu mengembalikan gairah untuk merayapi pulau kecil ini.

Kamis, 14 Maret 2013

GILI TRAWANGAN, SERPIHAN NIRWANA DI NUSANTARA


Awalnya, tidak ada rencana sama sekali untuk menginjakkan kaki dan berkelana di Gili Trawangan, pulau kecil yang tidak jauh dari Pulau Lombok.  Itu semua bermula dari jalan – jalan pagi menyusuri Pantai Senggigi dan akhirnya bertemu dengan Pak Zul (sebut saja begitu), salah seorang pemilik perahu yang sandar di tepian Senggigi.  Dia menawarkan paket untuk berkeliling Gili Amatra (Air, Meno dan Trawangan) dalam 1 hari dengan menaiki perahunya.  Saya sudah mencoba menolaknya namun harga yang ditawarkan cukup murah menurut saya, sekitar Rp600.000 untuk 6 orang  dan itu sudah termasuk perlengkapan snorkling untuk yang berminat menikmati keindahan bawah laut di Trawangan. Wow...sebuah tawaran yang harus saya diskusikan dengan teman – teman terlebih dahulu.  Dan akhirnya, setelah memaksa seorang teman untuk ikut serta dalam ekspedisi Amatra ini, kami pun sudah berada di dalam perahu sederhana milik Pak Zul, siap melaju ke Gili Trawangan.

Minggu, 27 Januari 2013

TAFAKUR DI MESJID AGUNG JAWA TENGAH, SEMARANG

Berkunjung ke kota Semarang tanpa mampir dan sholat di Mesjid Agung Jawa Tengah, Semarang, sepertinya kurang afdol.  Jadilah di siang yang terik itu, saya beserta rombongan dari Jakarta, dengan ditemani oleh Kepala Cabang  kantor saya di Semarang, Bapak Ahmad Zailani, berangkat menuju Mesjid Agung Jawa Tengah yang lebih sering disebut MAJT.  Saya sendiri terprovokasi oleh salah satu artikel yang pernah dimuat di Majalah Chip Foto Video yang menceritakan kemegahan serta keunikan mesjid ini.  Selain tempat ibadah, mesjid ini telah ditasbihkan salah satu spot fotografi yang wajib disambangi bila berada di Semarang.  Disela – sela tumpukan pekerjaan saya berusaha untuk memprovokasi anggota rombongan yang lain agar bersedia untuk menyempatkan langkah ke MAJT ini. 

Sabtu, 12 Januari 2013

LAWANG SEWU, SERIBU PINTU DENGAN SERIBU KISAH


Undangan kunjungan kerja dari salah satu kantor wilayah tempat saya bekerja begitu menyenangkan hati.  Ini adalah kesempatan pertama saya untuk mengunjungi Semarang.  Mudah – mudahan ada kesempatan untuk berjalan – jalan di kota yang terkenal dengan bandeng presto dan lumpia-nya ini di sela – sela pekerjaan yang seabrek – abrek banyaknya.

Sabtu, 17 November 2012

MEULABOH, SISI LAIN KEELOKAN NANGGROE







































4 jam menempuh perjalanan sejauh + 245 km cukup melelahkan saya.  Namun pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan Banda Aceh hingga Meulaboh ternyata luar biasa.  Walaupun sempat terlelap dalam 1 jam perjalanan awal karena kelelahan menempuh perjalanan dari Jakarta – Banda Aceh sehingga saya kehilangan kesempatan menyaksikan indahnya lansekap Pegunungan Groote, namun eksotisnya alam Nanggroe Darussalam ini masih tersisa dari Lamno hingga senja tiba di kaki langit kota Calang, salah satu daerah yang paling parah terpapar tsunami di Desember 2004 lalu.


Senin, 29 Oktober 2012

DANAU TOBA, KEINDAHAN SI KAWAH SUPER VOLKANO

Alkisah ada seorang petani yang rajin sekali dan bernama Toba.  Dia mendapatkan seekor ikan yang besar ketika memancing.  Ikan tersebut akhirnya menjelma menjadi seorang wanita yang cantik luar biasa yang kemudian menjadi istri petani tersebut dengan satu syarat bahwa Toba tidak boleh menyinggung asal usul istrinya yang menjelma dari ikan.  Singkat cerita mereka akhirnya dikaruniai seorang anak yang pada suatu hari disuruh ibunya untuk mengantarkan nasi kepada ayahnya di ladang.  Namun di tengah perjalanan si anak tadi memakan hampir seluruh nasi yang seharusnya diantar kepada ayahnya.  Mengetahui hal ini Toba pun marah besar dan tanpa sadar memukul anaknya sambil mengatakan “Anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal dari ikan!” Sang anak pun akhirnya menceritakan perlakukan dan perkataan kasar si ayah kepada ibunya.  Alangkah terkejut si Ibu begitu mengetahui bahwa suaminya telah melanggar sumpah untuk tidak mengatakan asal usul dirinya.  Ibu dan anak tadi akhirnya memutuskan melompat ke dalam sungai dan berubah menjadi ikan.  Toba, si petani itu pun menyesal mendapati istri dan anaknya telah berubah menjadi ikan serta mencoba menyusul mereka.  Namun hujan besar akhirnya membuat air sungai meluap dan menenggelamkan kampung Toba dan berubah menjadi danau.  Dalam versi cerita rakyat yang lain disebutkan kalau di tempat Ibu dan anak berpijak terakhir menyembul mata air yang akhirnya menenggelamkan desa sehingga menjadi danau.