Minggu, 16 Agustus 2015

MESJID SURIANSYAH BANJARMASIN, CIKAL BAKAL ISLAM DI KALIMANTAN



Matahari mulai meninggi tak kala perahu motor yang membawa kami mengarah pulang, usai melihat geliatnya pasar terapung di Sungai Kuin.  Lamunan saya buyar seketika sesaat melihat siluet bangunan besar nun jauh di ujung sana.  Indah sekali.  Air Sungai Kuin berubah keperakan karena sinar matahari pagi ini.  Ahh..masih ada waktu untuk melongok bangunan bersejarah di ujung sana.  Setidaknya saya masih punya waktu 10 – 15 menit sebelum kembali ke hotel dan bersiap ngantor hari ini.  Ya, Mesjid Bersejarah Suriansyah , demikian masyarakat Banjarmasin menyebut bangunan yang tadinya berupa siluet berangsur – angsur tampak jelas seiring perahu motor kami mendekati dermaga yang persis berada di depannya.  




































Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, mesjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526 – 1550), Raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk Islam, dan merupakan mesjid tertua di Banjarmasin.  Dalam beberapa sumber dikisahkan Sultan Suriansyah yang mulanya bernama Pangeran Samudera merupakan putera dari Putri Galuh, puteri dari Maharaja Sukarama, Raja dari Kerajaan Negara Daha.  Sang Raja memiliki 3 orang putera, yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung, serta seorang puteri, yaitu Putri Galuh.  Sudah sewajarnya bila pewaris kerajaan ada di pundak putera Sang Raja, namun Sang Raja berwasiat lain.  Dia menunjuk cucunya, Pangeran Samudera, putera dari Putri Galuh, untuk menggantikannya menjadi Raja bila Sang Raja mangkat.  Keadaan menjadi tidak terkendali ketika Sang Raja wafat.  Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung tidak terima atas wasiat tersebut.  Pangeran Samudera yang ketika itu berusia 10 tahun pun akhirnya diasingkan, keluar dari istana.
Pangeran Samudera selama belasan tahun hidup sebagai nelayan di perkampungan Sungai Kuin. Pada suatu hari, tanpa disengaja, Pangeran Samudera bertemu dengan Patih Masih dan dari pertemuan tersebut akhirnya terungkap jati diri Pangeran Samudera yang hidup sebagai nelayan tersebut.  Patih Masih bersama dengan patih – patih yang lain serta didukung oleh rakyat mengangkat Pangeran Samudera menjadi Raja Kerajaan Banjar serta melepaskan diri dari Kerajaan Negara Daha.  Ketika itu Pangeran Tumanggung memimpin kerajaan Negara Daha, menggantikan kakaknya, Pangera Mangkubumi yang tewas terbunuh, mendengar Pangeran Samudera masih hidup dan menjadi raja di Kerajaan Banjar.  Pangeran Tumanggung pun akhirnya menyatakan perang kepada keponakannya tersebut.  Kerajaan Banjar mendapatkan dukungan dari Kerajaan Demak yang tiba pada tahun 1526 di Sungai Kuin.  Dukungan dari Kerajaan Demak ternyata bersyarat, yaitu Pangeran Samudera dan pengikutnya wajib memeluk Islam.  Pada 24 September 1526, Pangeran Tumanggung dan Pangeran Samudera berdamai.  Keduanya berpelukan dan Kerajaan Banjar sejak saat itu resmi memisahkan diri dari Kerajaan Negara Daha.  Hari bersejarah tersebut juga diperingati sebagai hari jadinya kota Banjarmasin.  Pangeran Samudera sebagaimana janjinya akhirnya memeluk Islam dan bergelar Sultan Suriansyah.

 




































Mesjid Bersejarah Sultan Suriansyah memiliki bentuk arsitektur tradisional Banjar, dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang. Walaupun beberapa kali telah dipugar, namun arsitektur asli tetap dipertahankan dan didominasi oleh kayu.

Melangkahkan kaki memasuki mesjid ini mengundang rasa takjub saya.  Di dalam ruang mesjid terdapat 4 soko guru yang berdiri kokoh dengan ukiran khas Banjar disekujur badannya.  Saya pun menyempatkan shalat sunat tahiyatul masjid disusul dengan Shalat Dhuha sebelum mengambil gambar di dalam ruang mesjid ini.  Tenang dan damai menjalar dalam hati saya ketika duduk bersila memandang sekeliling mesjid yang terbuat dari kayu ini. 
Tak jauh dari tempat saya, di depan terdapat mimbar dan daun pintu yang dikacakan.  Menurut penjaga mesjid, daun pintu tersebut adalah Lawang Agung (Pintu Utama), salah satu daun pintu yang dibuat oleh Kiai Demang Astungkara pada 10 Sya’ban 1159, usianya sudah lebih 250 tahun.  Mimbar yang berada di mesjid ini juga tak kalah tua usianya.  Mimbar berbahan kayu Ulin ini dibuat pada 17 Rajab 1296 H atau hampir mencapai 150 tahun usianya.






Rasanya masih ingin berlama – lama di mesjid ini.  Namun, saya terlanjur punya janji pagi ini dengan  rekan – rekan  di kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.  Mudah – mudahan masih ada asa untuk berkunjung kembali.  Terima kasih kepada Pak Moegiyarto Soeryo yang sudah bersedia ikut dalam kegiatan membelah pagi di Banjarmasin.