Minggu, 21 September 2014

PASAR TERAPUNG SUNGAI KUIN, BANJARMASIN, YANG MEMIKAT HATI


Alarm dari smartphone bunyi menderu-deru, memaksa saya keluar dari alam mimpi.  Malam pertama di Banjarmasin. Atau mungkin tepatnya dini hari pertama.  Kantuk masih hinggap beberapa saat sebelum saya paksakan untuk bangun dan segera me-non aktif-kan bel pengingat tersebut.  Jam menunjukkan masih pukul 02.30 WIB atau 03.30 WITA.  Saya harus bergegas bila tidak ingin kehilangan momen meliput jual beli di pasar terapung di Sungai Kuin, Banjarmasin.  Pesan pendek seorang teman yang bertugas di Banjarmasin masih jelas dalam benak saya, jangan lupa untuk mengabadikan pasar terapung khas nya Banjarmasin dan hanya ada sampai jam 06.30 WITA saja.  Waduh, itu artinya jam 05.30 WIB aktivitas pasar sudah selesai.  Saya pun menghitung - hitung harus jam berapa keluar dari hotel untuk menuju ke lokasi pasar terapung tersebut.  Bertugas ke Indonesia bagian tengah selalu menjadi tantangan tersendiri buat saya, terutama dalam penyesuaian jam biologis yang lebih maju 1 jam ketimbang di bagian barat nusantara ini.

Selesai mengerjakan sholat Subuh yang telah masuk waktu di jam 04.51 WITA atau 03.51 WIB, saya pun bergegas menuju lobby hotel untuk kumpul dengan anggota tim yang lain sebelum menyusui Sungai Kuin di pagi buta ini.  Hanya ada saya dan Pak Moegi, kepala bagian saya di kantor, yang akan ikut dalam petualangan ini.  Seorang teman ternyata lebih memilih menarik selimut kembali ketimbang ikutan rencana gila kami ini.  Jadilah kami berangkat bertiga dengan supir yang telah disiapkan oleh kantor Cabang Banjarmasin untuk mengawal kami sampai ke Sungai Kuin.  Pasar Terapung di Sungai Kuin pun akhirnya kami pilih sebagai tujuan di pagi ini karena lokasinya relatif dekat dari hotel, sekitar 15 menit perjalanan dari hotel kami terletak di pusat kota Banjarmasin.

Banjarmasin memiliki 2 pasar terapung yang melegenda, Pasar Terapung Lok Baintan dan satunya lagi adalah Pasar Terapung Sungai Kuin.  Pasar terapung Lok Baintan terletak di Sungai Martapura sedangkan Pasar Terapung Sungai Kuin terletak di muara Sungai Kuin/Sungai Barito.  Pagi itu supir kami mengarahkan mobil di jalanan yang masih sepi ke muara Sungai Kuin karena lebih dekat dari hotel.  Sayang sekali tidak dapat meliput pasar terapung yang ada di Lok Baintan karena jaraknya cukup memakan waktu, harus berkendara ke arah Martapura dan sang supir juga tidak begitu hafal jalannya. Ingatan saya kembali ke station ID salah satu stasiun televisi swasta yang pernah menayangkan Pasar Terapung Lok Baintan, dimana seorang pengunjung pasar dengan berkerudung putih mengangkat jempolnya ke layar televisi.  Tak apalah, mudah - mudahan pasar terapung Sungai Kuin dapat mengobati hati, demikian harap saya. Mobil kami pun akhirnya memasuki pelataran parkir mesjid yang akhirnya saya ketahui bernama Mesjid Bersejarah Sultan Suriansyah.  Tak sempat berlama - lama mengagumi bangunan bersejarah itu, ketika melemparkan pandangan berkeliling ternyata saya dapati dermaga berikut dengan perahu motor tepat berada di seberang mesjid.  Ooo ternyata Mesjid Suriansyah menghadap ke Sungai Kuin. 


Hari masih gelap ketika kami memutuskan untuk membelah Sungai Kuin, menyusuri alirannya, menuju ke pasar terapung.  Di belakang kami, siluet Mesjid Suriansyah tertinggal dan seolah melambai mengucap selamat jalan.  Satu lagi pengalaman baru buat saya, mengirup udara pagi di atas perahu motor sambil melihat jajaran rumah warga di tepian sungai yang masih sepi dari aktivitas.  Aliran sungai pun tak jauh beda.  Hanya perahu motor kami saja yang baru melintasi Sungai di pagi ini.  Setelah 5 menit bermain dengan riak sungai akhirnya kami pun berpapasan dengan 2 jukung (perahu) yang ditarik oleh perahu motor melaju menuju pasar terapung.   

Lalu lintas Sungai Kuin semakin ramai ketika kami mendekati tujuan, Pasar Terapung Sungai Kuin.  Selain jukung - jukung yang membawa hasil bumi serta barang - barang yang hendak diperjual belikan atau ditukar, perahu motor yang ukurannya lebih besar dari jukung pun banyak berkeliaran di sekitar Pasar Terapung ini.  Takjub juga melihat warung kopi terapung yang berada di atas sebuah perahu motor atau warung makan yang menjajakan menu Soto Banjar untuk sarapan.  Pemandangan ini pun membuat saya menggelengkan kepala.  Kami pun memutuskan untuk mencoba Soto Banjar sebagai menu sarapan pagi ini.

Sudah menjadi kebiasaan saya sebelum menyantap sajian khas di daerah yang saya kunjungi, aktivitas memotret kuliner kemudian mengunggahnya ke jejaring sosial adalah hal wajib yang saya lakukan.  Belum sempat memulai suapan pertama, komentar dari beberapa teman di jejaring sosial pun masuk ke smartphone saya.  Yang buat saya geli adalah komentar dari teman - teman yang ada di Medan, ada yang masih leyeh - leyeh di tempat tidur atau baru saja selesai menunaikan sholat Subuh, sementara saya sudah berkutat di Pasar Terapung plus sarapan pagi.



































Citarasa si Soto Banjar ini ternyata pas di lidah, mirip dengan soto Medan.  Sama - sama ber-santan.  Mantap bin makyos. Disajikan bersama-sama dengan lontong atau ketupat nasi, ditambah dengan suiran ayam plus potongan telur serta sedikit mihun, Soto Banjar jadi menu yang pas buat mengganjal perut di pagi ini.  Ayunan perahu akibat riak sungai pun tak kami hiraukan lagi begitu menyantap sajian khas dari borneo ini.


Aktivitas mengganjal perut selesai sudah, saatnya untuk berkeliling di Pasar Terapung.  Saya sedikit kecewa ketika mendapati pasar terapung di Muara Kuin ini tidak ramai sebagaimana saya bayangkan.  Tidak terlalu banyak jukung dan pedagang yang berjualan pada pagi ini.  Menurut driver Cabang yang mendampingi kami aktivitas pasar terapung ramai hanya di akhir pekan saja.  Itu pun tidak seramai 2 atau 3 tahun yang lalu.  Saat ini pasar darat lebih disukai oleh para pedagang dan pembeli.  Tidak harus bersusah payah dan menghabiskan biaya besar untuk mendapatkan kebutuhan sehari - hari.







































Tak terasa penunjuk waktu di pergelangan tangan saya menunjukkan pukul 05.30 WIB atau 06.30 WITA.  Perlahan namun pasti, kerumunan jukung pun mulai menghilang.  Satu per satu meninggalkan Muara Sungai Kuin ini.  Seperti kedatangannya tadi, mereka pun bergerombol, 2 - 3 jukung ditarik oleh 1 perahu motor mengarah pulang ke rumah.  Bersiap - siap mengumpulkan hasil bumi untuk diperdagangkan atau ditukarkan esok hari.



Sungguh pengalaman baru yang luar biasa pagi ini.  Terima kasih kepada Bapak Moegiyarto Soeryo dan Mas Driver dari Cabang Banjarmasin yang telah bersedia untuk menemani melihat aktivitas di Pasar Terapung Muara Kuin, Banjarmasin. Semoga kunjungan berikutnya bisa melongok ke Pasar Terapung yang berada di Lok Baintan, Martapura.