Sabtu, 06 Oktober 2012

POSTCARD DARI SIDAMANIK, SIMALUNGUN

Sidamanik.  Itulah tujuan saya membawa anak istri dan keluarga abang saya yang datang dari Lembang ke Pematang Siantar untuk menikmati libur Lebaran 2012 kali ini. Memang bukan tujuan utama, hanya sekedar tujuan antara saja.  Tujuan utama perjalanan kami pagi itu tentu saja Danau Toba dan Pulau Samosir.  Istri abang saya yang asli Lembang itu beserta dengan Ichsan dan Iqbal, kedua putera mereka, belum pernah melihat keindahan danau terbesar di nusantara ini,  Toba. Jadi, mumpung liburan dan menginap di Pematang Siantar, pagi itu kami sempatkan untuk mencuci mata ke Danau Toba via Sidamanik dan Tanjung Unta.  Sengaja saya memilih rute yang agak sedikit memutar dan lebih jauh ini agar dapat menyuguhkan pemandangan alam khas Simalungun kepada tamu dari Lembang tadi.

Sejujurnya saya agak cemas ketika mengawali perjalanan kami menuju Sidamanik.  Dalam    2 hari terakhir Pematang Siantar diguyur hujan terus menerus sehingga rencana untuk menikmati indahnya perkebunan Teh milik perusahaan plat merah di Sidamanik bisa gagal total.  Sidamanik sendiri bukanlah sesuatu yang asing buat saya.  Saya telah beberapa kali mengunjungi perkebunan Teh di Sidamanik ini namun belum pernah mendapatkan suasana yang pas untuk menikmati keindahan perkebunan Teh disini.  Pernah suatu ketika, saya dan keluarga melakukan perjalanan ke Balige via Sidamanik namun ketika melintas di area perkebunan Teh hujan tidak kompromi dan turun selebat - lebatnya.  Di kesempatan lain,  sepulang photo hunting bersama rekan - rekan di Aek Nauli menuju Pematang Siantar, kami sengaja memilih rute pulang melalui Sidamanik.  Maksud hati melanjutkan photo hunting di area perkebunan teh Sidamanik, namun sekali lagi kesempatan itu pun akhirnya terbuang percuma karena di tengah perjalan, tanpa sebab musabab yang jelas, saya demam tinggi. Padahal ketika photo hunting di Aek Nauli sebelumnya, saya sehat - sehat saja.  Ya itulah kalau sudah tidak berjodoh.  Jadi wajar kan kalau saya sedikit khawatir kali ini.  Jangan - jangan dikesempatan kali ini pun saya tidak berhasil menikmati keindahan perkebunan teh di Sidamanik.

Sisa hujan malam tadi masih membekas di jalanan Pematang Siantar, ketika kami memulai perjalanan ini sekitar jam 08.00 WIB. Matahari pun masih malas bersinar dan membiarkan awan bermain - main di langit. saya tidak berharap banyak bisa menikmati perjalanan kali ini.  Satu - satu alasan saya untuk tetap melanjutkan perjalanan ini adalah saya merasa berkewajiban mengajak Abang dan keluarganya untuk melihat Danau Toba dan mengantar mereka menyeberang ke Pulau Samosir.  Sesampainya di area persawahan menuju ke Sidamanik cuaca pun masih belum bersahabat.  Namun, memasuki Sidamik cuaca tiba - tiba berubah. Sinar matahari begitu kinclong dan langit pun seketika biru bercampur putihnya awan yang berarak.  Dalam hati saya pun bersyukur.  Ternyata Tuhan mendengar doa saya.  Terima kasih Sang Pemilik Alam yang memberikan kesempatan kepada saya untuk mengabadikan keindahan perkebunan Teh Sidamanik kali ini.  Saya pun kemudian mempersiapkan Canon 500D beserta dengan lensa Tamron 18-270mm VC PZD untuk bertugas kali ini.  Abang saya dan keluarganya menolak untuk turun dan berphoto di tengah hijaunya perkebunan Teh Sidamanik ini karena tak jauh dari rumah mereka di Lembang juga banyak perkebunan Teh. Jadilah saya sendiri yang turun dan memetik shutter untuk merekam keindahan alam khas Simalungun.  Dalam hati saya pun berkata, hey....Sumatera Utara juga punya perkebunan Teh lho....


Sedikit tentang Sidamanik.  Sidamanik sendiri merupakan salah satu kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Kecamatan Sidamanik sendiri memiliki ibukota dengan nama yang sama dengan nama kecamatannya, Sidamanik.  Kota kecamatan ini tidak terlalu besar.  Sebagaimana kota kecamatan di Kabupaten Simalungun lainnya, kota ini memiliki 1 jalan utama yang membelah kota yang bila kita jalani akan mengarah ke Desa Bah Butong, tempat perkebunan Teh milik PTPN IV berlokasi.  Melintasi kota kecamatan ini benak saya pun melayang jauh ke 3 tahun yang lalu ketika masih bertugas di Perdagangan, ibukota kecamatan Pematang Bandar, salah satu kecamatan di Kabupaten Simalungun.  Bertugas selama 2 tahun di Perdagangan membuat saya familiar dengan suasana kota Sidamanik ini, walaupun untuk ukurannya Perdagangan lebih besar dan lebih ramai. Perkebunan Teh sendiri letaknya tidak jauh dari kota Sidamanik ini.





































Berlokasi di Bah Butong, PTPN IV Kebun Bah Butong terletak di ketinggian 800-900 mdpl, bukanlah ketinggian ideal untuk Teh yang biasanya memilih tumbuh subur di ketinggian 1000 mdpl.   Saat ini kebun teh milik PTPN IV yang terletak di Bah Butong, Tobasari dan Sidamanik mengalami ancaman dikonversi menjadi Kelapa Sawit karena tidak menguntungkan bagi pengelolanya.  Bayangkan saja, tadinya ada 6 kebun teh yang dimiliki oleh perusahaan pelat merah ini, namun sejak tahun 2004 - 2008 3 kebun teh yang terletak di Bah Birong Ulu, Marjandi dan Sibosur harus rela dikonversi menjadi Kelapa Sawit.  Saat ini PTPN IV berupaya mempertahankan ketiga kebun teh eksisting-nya dengan total luas hanya 4.595 ha dengan produksi yang terus menurun.  Dari ketiga kebun teh tadi, Kebun Teh yang terletak di Bah Butong adalah yang tertua, dimana dibuka pertama sekali pada tahun 1917 oleh Nederland Handel Maatschappij dan saat ini memiliki luas areal sebesar 2.891,84 ha dengan luasan yang menghasilkan hanya 1.229,71 ha. Teh produksi kebun Bah Butong ini dikenal memiliki rasa yang kuat, dimana bercitarasa kelat dan menyisakan rasa yang kuat ketika diresap oleh lidah.  Makanya tidak jarang teh produksi PTPN IV dijadikan salah satu komponen utama dari salah satu merek terkenal dunia.  Ingatan saya kembali di tahun 2002 ketika masih bekerja sebagai akuntan di salah kantor akuntan publik di Medan.  Salah satu perusahaan yang pernah saya audit adalah tea blending di Cikupa, Banten.  Menurut tea tester-nya yang berkebangsaan India, teh produksi mereka di ekspor ke Eropa dan Timur Tengah dan menggunakan campuran teh dari berbagai tempat, terutama dari Sidamanik karena memiliki rasa yang khas dan kuat.  Saya sendiri punya pengalaman yang tidak mengenakkan ketika dipersilahkan mencicipi teh yang memiliki campuran utama dari Sidamanik itu karena efeknya membuat saya terjaga semalaman.




Matahari yang semakin tinggi pun akhirnya menyadarkan saya untuk segera melanjutkan perjalanan dan menyudahi photo hunting ini.  Perjalanan masih jauh.  Masih ada beberapa spot photo lagi yang menanti di depan, salah satunya adalah Tanjung Unta.  Terima kasih Tuhan untuk hijaunya hamparan Teh, birunya langit serta mentari yang bersinar lantang di Sidamanik sehingga bisa terekam dengan sempurna di Canon 500D saya.

sumber: http://nasional.kompas.com/read/2010/08/27/03002225/