Minggu, 07 November 2010

Istana Maimoon Medan

Bila anda ke Medan, singgahlah sekejap di Istana Maimoon.  Istana yang terletak di Jl. Brig.Jend. Katamso Medan ini mulai dibangun pada tahun 1886 dan selesai pada tahun 1888.  Sampai saat ini ada beberapa pendapat tentang siapa sesungguhnya arsitek dari istana Kesultanan Deli ini.  Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa sang perancang pembangunan istana tersebut adalah berkebangsaan Italia.  Namun, beberapa kerabat keluarga Kesultanan memastikan bahwa orang yang bertindak sebagai arsitek pembangunan istana tersebut adalah Kapten TH Van Erp, berkewarganegaraan Belanda.  
Istana dengan dominasi warna kuning ini merupakan perpaduan arsitektur barat dan timur.  Anda akan menemukan arsitektur Moghul, India, Belanda, Timur Tengah dan Spanyol, namun tetap kental dengan ciri khas Melayu nya, yaitu berwarna kuning dan berdinding papan.

Secara umum Istana Maimoon ini terbagi atas 3 ruang utama, yaitu bangunan induk, sayap kanan dan sayap kiri.  Bangunan induk dapat anda akses dengan menaiki undakan tangga dari depan pintu istana.  Anda akan menjumpai ruangan seluas 412 meter persegi, dimana di dalamnya terdapat singgasana Sultan yang juga didominasi oleh warna kuning.  Ruangan ini sering juga disebut Balairung.  Ruangan dan Singgasana tersebut ternyata masih dipergunakan untuk acara - acara Kesultanan, seperti penobatan Sultan baru.
Bangunan istana yang memiliki luas 2.772 meter persegi ini memiliki 30 ruangan yang terdapat dalam lantai 1 dan 2 istana.  Di dalam Balairung istana anda akan menemukan sofa, lemari dan meja peninggalan Kesultanan Deli yang diimport dari Belanda.  Selain itu jangan lupakan untuk melihat keindahan lampu kristal yang dipasang ditengah langit - langit Balairung.  Kabarnya lampu tersebut sengaja didatangkan dari Prancis.  Ubin yang digunakan di istana juga berasal dari Eropa.  

 Walaupun sudah tidak memiliki kekuasaan secara politik lagi, Kesultanan Deli masih eksis sampai dengan saat ini.  Saat ini Kesultanan dipimpin oleh Sultan ke 14, Sri Sultan Mahmud Aria Lamanjiji Perkasa Alam Shah.  Sultan yang lahir pada 17 Agustus 1997 ini naik tahta pada usia 8 tahun dan tercatat sebagai Sultan Deli termuda.  Beliau menggantikan ayahnya, Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alam yang meninggal dunia pada tahun 2005 ketika menjalankan tugas sebagai Kolonel TNI Angkatan Darat.











Selain bangunan istana, di komplek seluas 4 hektar ini juga anda dapat melihat puntungan meriam yang terletak pada bangunan yang terpisah dari bangunan istana.  Puntungan meriam tersebut dikenal secara luas dengan nama Meriam Puntung.  Penamaannya jelas diambil dari bentuk fisiknya yang berwujud meriam namun sudah tidak utuh lagi.  Menurut legenda yang menyertainya, kisah Meriam Puntung erat kaitannya dengan cerita Puteri Hijau, seorang puteri yang cantik jelita dari Kerajaan Timur Raya.  Mambang Khayali, salah satu saudara laki - laki dari Puteri Hijau berubah menjadi meriam dan menembak secara membabi buta dalam perlawanan Kerajaan Timur Raya terhadap serangan Kerajaan Aceh yang marah akibat pinangan sang Raja ditolak oleh Puteri Hijau.  Akibat sang Meriam pun pecah, terbelah menjadi 2 bagian, dimana bagian depan ditemukan di daerah Surbakti, Kabupaten Karo.  Sementara bagian belakangnya ditemukan di daerah Labuhan Deli dan kemudian dipindahkan ke halaman Istana Maimoon.  Potongan meriam tersebut terletak di dalam bangunan dengan arsitektur Karo.
Terima kasih kepada Dede dan Tita beserta puteri mereka, Ndaru, yang telah menginspirasi photo hunting ke Istana Maimoon, Medan.