Senin, 21 Maret 2011

TJONG A FIE MANSION

TJONG A FIE MANSION @ MEDAN
Berburu photo di Tjong A Fie Mansion ini merupakan keinginan saya sejak lama.  Bayangkan, dari sejak tahun 1995 saya menyimpan keinginan untuk dapat melihat secara langsung keadaan dalam bangunan itu, Alhamdulillah baru Agustus 2009 kesampaian.  Keluarga taipan keturunan Tionghoa tersebut akhrinya bersedia untuk menjadikan rumah kuno nan mewah dengan arsitektur tiongkok tersebut sebagai Tjong A Fie Mansion dan dikelola oleh Tjong A Fie Memorial Institute sebagai upaya dari melestarikan sejarah, terutama perjalanan hidup konglomerat tionghoa pertama di Medan (Sumatera Timur pada waktu itu).


Rumah Tjong A Fie yang terletak di Jl Jend Ahmad Yani Medan atau dahalu dikenal sebagai kawasan Kesawan, didirikan pada tahun 1900 dan dibuka untuk umum pada tanggal 18 Juni 2009 untuk memperingati ulang tahun Tjong A Fie yang ke 150 tahun.  Sampai dengan saat ini rumah tersebut masih dihuni oleh keluarga Tjong A Fie.  Mereka mendiami sisi barat dari rumah, sementara hanya sisi timur saja yang dibuka untuk pengunjung umum.  Namun begitu pun, sudah cukup puas untuk mengagumi keindahan dan kebesaran rumah yang memiliki 40 kamar itu.  Memasukinya seakan memulai perjalanan membalikan waktu dan anda akan berada dalam pusaran masa 1900 an.  Apalagi photo – photo milik keluarga yang dipajang secara apik dibeberapa ruangan tentunya akan membantu imajinasi kita kembali ke masa lalu, masa dimana seorang taipan dan kapitan Tionghoa berada di puncak kejayaannya. 

Tjong A Fie dilahirkan di Sungkow, Guangdong, Tiongkok, pada tahun 1860.  Berasal dari keluarga sederhana dan memutuskan merantau untuk mengadu nasib ke Deli, Sumatera Timur (kala waktu itu) pada tahun 1875.  Kakaknya, Tjong Yong Hian, sudah lebih dulu merantau ke Deli dan menjadi kapitan (pemimpin) Cina (Tionghoa) di Medan.  Keberahasilan Tjong Yong Hian menjadi motivasi bagi Tjong A Fie untuk merantau dan meninggalkan tanah kelahirannya.  

Di perantauannya, Tjong A Fie ternyata dikenal sebagai pribadi yang tangguh, ulet, jujur, setia dan menyenangkan.  Jadi tidak heran, dia tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat Tionghoa Medan pada waktu itu, namun juga masyarakat India, Arab, Melayu dan para pemuka Belanda.  Belanda sendiri akhirnya mengangkat Tjong A Fie sebagai Letnan Tionghoa dan kemudian menjadikannya Kapitan pada tahun 1911.  Menyadari pentingnya posisi Tjong A Fie di masyarakat Medan pada waktu itu, Belanda memberikan posisi kepadanya sebagai anggota Dewan Kota, Dewan Kebudayaan dan penasehat khusus untuk Tionghoa.  Tjong A Fie juga dikenal memiliki hubungan yang cukup baik dan sangat dekat dengan Sultan Deli pada waktu itu, Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsyah.  Bahkan dia mempersiapkan ruang tamu khusus dalam menyambut kedatangan sang Sultan apabila berkunjung ke rumahnya.
Tjong A Fie selama hidupnya dikenal sebagai taipan atau pengusaha Tionghoa yang sukses.  Bayangkan saja, pada waktu itu dia memiliki perkebunan teh, perkebunan karet, perkebunan tembakau, pabrik pengolahan karet dan usaha pertambangan di Sawah Lunto, Sumatera Barat.  Perkebunannya bahkan lebih luas dari milik perkebunan milik warga Belanda kala itu, sampai – sampai pemerintah Belanda memberikan hak pengelolaan terhadap perkebunan milik mereka di 17 tempat di Sumatera Timur.  Tidak hanya itu saja keberhasilan usaha Tjong A Fie.  Dia bersama abangnya, Tjong Yong Hian, membangun sebuah perusahaan kereta api di Tiongkok Selatan.  Tidak dipungkiri bahwa keberhasilannya dalam menjalankan usaha berkat dukungan dan kedekatannya dengan orang – orang berkuasa pada waktu itu, terutama Sultan Deli dan pemerintah Belanda.


Selama hidupnya, Tjong A Fie memiliki 3 orang istri dan 10 orang anak.  Nama Tjong A Fie sendiri tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah kota Medan.  Banyak sumbangan yang diberikan oleh Tjong A Fie kepada kota itu, diantaranya Jam Besar yang berada di Balaikota Medan, pembangunan Istana Maimoon, pembangunan gereja yang saat ini berada di Jl. K. H. Zainul Arifin atau dikenal dengan kawasan Kampung Keling, pembangunan Kuil Budha dan Hindu, pembangunan Mesjid Raya Al Mansoon, pembangunan Mesjig Gang Bengkok,  pembangunan Jembatan Kebajikan yang terletak di kawasan Kampung Keling Medan dan sebagai pelopor industri kereta api di Sumatera Timur.  Namanya sempat diabadikan sebagai salah satu nama jalan yang ada di Medan walaupun pada akhirnya diganti menjadi Jalan K. H. Ahmad Dahlan.   Tjong A Fie meninggal dunia pada 4 Februari 1921  akibat pendarahan di otak dan dimakamkan di tempat pertama sekali dia menginjakkan kakinya di Sumatera Timur, yakni di daerah Medan Labuhan.

Berkeliling di Tjong A Fie Mansion ini ternyata membutuhkan energi dan waktu yang tidak sedikit. Bayangkan saja, untuk menghabiskan seluruh lawatan di semua ruangan yang ada di Mansion, saya dan keluarga menghabiskan waktu sekitar 2 jam.  Mansion memiliki 4 ruang tamu.  Ruang tamu yang paling depan dipergunakan oleh Tjong A Fie untuk menerima tamu umum.  Sisanya, merupakan ruang tamu khusus yang letaknya berada di dalam setelah ruang tamu umum.  Untuk menerima Sultan Deli, Tjong mempersiapkan satu ruang tamu yang letaknya di sayap barat bangunan.  Dibagian tengah merupakan ruang tamu untuk masyrakat Tionghoa dan di sayap timur merupakan ruang tamu bagi pemuka pemerintah Belanda dan Eropa.  Selain itu, Mansion memiliki 2 altar untuk sembahyang.  1 terletak di lantai bawah dan sisanya di lantai atas Mansion.  Selain altar, lantai atas Mansion terdapat ballroom yang dipergunakan untuk ruang dansa dan pesta. Ball room ini menghadap ke Jl Jend A Yani.
Bagian belakang Mansion merupakan dapur, ruang makan keluarga, ruang keluarga dan Kamar Utama Tjong A Fie.  Seluruh peralatan makan Tjong A Fie ditata dengan apik di atas meja makan yang bertaplak merah menyala.  Cukup kontras dengan peralatan makan yang serba putih.  Selain itu juga anda akan mendapati pesawat telepon yang dipergunakan oleh Tjong pada jamannya yang dipajang di ruang keluarga yang letaknya bersebelahan dengan ruang makan.  Kamar tidur utama juga bersebelahan dengan ruang makan.  Kamar ini dahulunya dipergunakan oleh Tjong A Fie sekaligus sebagai ruang kerjanya.  Dari pemandu saya peroleh informasi bahwa tempat tidur, lemari pakaian serta meja berasal dari daratan Tiongkok dan semuanya masih dalam keadaan yang cukup terawat.  Terdapat juga baju yang dahulunya dipakai oleh Tjong A Fie dan Istri.  Di meja kerja kita dapat melihat berbagai jenis dokumen kerja milik Tjong A Fie, seperti perjanjian tertulis hutang piutang, pencatatan keuangan usaha dan stempel yang dipergunakan Tjong untuk berdagang.  Saya dan keluarga menyempatkan berfoto di ruang tidur utama ini.  Pada waktu kunjungan pertama, pihak Tjong A Fie Memorial Institute tidak memperbolehkan pengunjung untuk mengambil photo ditempat ini.



Perburuan photo di Tjong A Fie Mansion ini pun akhirnya ditutup dengan lelah, pegal namun puas.  Terima kasih untuk Tjong A Fie Memorial Institute dan keluarga besar Tjong A Fie yang sudah mengizinkan kami untuk berkunjung dan berkeliling di Tjong A Fie Mansion.  
Informasi dalam blog ini bersumber dari keterangan guide Tjong A Fie Memorial Institute dan walau masih jauh dari sempurna dan lengkap, namun harapan saya artikel ini mudah - mudahan dapat melengkapi referensi mengenai taipan Tjon A Fie dan mansion-nya yang saat ini juga masih jarang.

Photo dalam blog ini diambil dengan gear Canon EOS 500 dan lensa Sigma 24-70mm f/2,8 HSM.  Untuk dapat melihat hasil photo secara lengkap silahkan untuk mengunjungi https://picasaweb.google.com/dhanny1328/TjongAFieEditedVersion.

Terima kasih kepada sahabat kami, pasangan Dede "babahndaru" Siregar dan Anggraini Citra "mamandaru" Kesuma beserta putri cantik mereka, Ndaru Hayu Ganesha, yang telah menginspirasi untuk melakukan lawatan ini .