Minggu, 06 November 2011

MENYUSURI BANDA ACEH

Perjalanan ke Banda Aceh bukanlah kali pertama buat saya, namun tetap saja istimewa.  Mulai dari kelezatan kulinernya, keramahan orang - orangnya sampai ke objek wisatanya.  Bukan kali pertama juga saya mengunjungi objek wisata yang ada di Banda Aceh, seperti Mesjid Baiturrahman, PLTD Apung, Mesjid Baiturrahim yang dinisbatkan sebagai Ground Zero Tsunami Atjeh dan pemakaman massal di Meuraxa yang dulunya merupakan bangunan rumah sakit.  Tapi kali ini lebih istimewa, karena saya berniat mengabadikannya setelah menyelesaikan pekerjaan kantor.
Mesjid Baiturrahman Banda Aceh

Sering juga disebut sebagai mesjid raya Banda Aceh.  Letaknya berada di jantung kota Banda Aceh dan bersebelahan dengan Pasar Atjeh.  Sejak awal saya merencanakan untuk dapat mengambil gambar mesjid ini ketika blue hour, yang memang bertepatan dengan waktu maghrib, jadi untuk perjalanan kali ini sengaja tripod saya bawa serta jauh - jauh dari Jakarta.  Ternyata, tidak gampang untuk memotret mesjid ini ketika blue hour.  Ada larangan dari Badan Kenaziran mesjid setempat bahwa setiap pengunjung pria harus melaksanakan sholat Maghrib ketika waktu tiba dan pemotretan dapat dilakukan setelah sholat usai.  Walaupun saya sampaikan bahwa saya musaffir dan akan menjamak sholat di waktu Isya, pihak keamanan mesjid tidak memperbolehkan saya melakukan pemotretan ketika sholat Maghrib sedang dilaksanakan.  Kalaupun saya berniat menjamak sholat sehingga memutuskan untuk tidak melaksanakan sholat Maghrib bersama dengan jamaah lainnya, saya tetap diminta untuk tidak memotret dan duduk di pelataran mesjid.  Saya pun akhirnya menyerah berdebat dengan pihak keamanan dan memutuskan mengerjakan sholat Maghrib.  Saya juga akhirnya harus mengikhlaskan untuk kehilangan blue hour.
Setelah missed the blue hour, saya pun memutuskan kembali ke Mesjid Baiturrahman keesokan harinya, menyempatkan untuk mengambil beberapa gambar sambil menunggu jadwal penerbangan ke Jakarta di siang harinya.  Hari cerah dan langit biru adalah kombinasi yang sempurna untuk mengabadikan mesjid raya Banda Aceh ini.

Pemakaman Massal Banda Aceh
Mengunjungi Banda Aceh tanpa melawat ke tempat ini sepertinya kurang afdol.  Pemakaman Massal Banda Aceh merupakan salah satu saksi bisu dasyatnya Tsunami yang melanda kota itu pada Desember 2004 yang lalu.  Terletak tidak jauh dari pusat kota dan dekat dengan Pelabuhan Laut Ulee Lheue, membuat bangunan eks Rumah Sakit ini pun tak kuasa menahan amukan air bah pada hari Minggu pagi itu.

Foto ini terpilih sebagai Photo Pilihan pada situs Fotokita.Net untuk tanggal19 Oktober 2011:
Berdasarkan prasasti yang terletak di depan bangunan dan tidak jauh dari pintu masuk dapat kita ketahui bahwa lebih kurang 14.264 orang terkubur hidup - hidup di areal Rumah Sakit tersebut ketika mencoba menyelamatkan diri dari air bah yang memasuki kota Banda Aceh.
Pemakaman massal ini dipagari oleh dinding - dinding yang bertuliskan Asmaul Husna, mengelilingi seluruh areal eks Rumah Sakit.

Ground Zero Tsunami Atjeh 2004
Pernah mendengar bahwa ada mesjid di Banda Aceh yang tidak rubuh dan rusak ketika Tsunami melanda kota itu ?  Inilah dia, Mesjid Baiturrahim.  Mesjid yang dibangun pada tahun 1926 tersebut oleh Alm. Teuku Teungoh dengan menggunakan dana swadaya masyarakat Meuraxa, Ulee Lheue.  Pada tahun 1981 sempat dilakukan perluasan pada samping kiri dan kanan bangunan utama dengan memanfaatkan dana bantuan dari Kerajaan Arab Saudi sebesar Rp37 juta sehingga memiliki kapasitas tampung yang lebih luas dari semula.  Tidak ada kerusakan yang berarti pada bangunan mesjid akibat Tsunami pada Minggu pagi ketika air bah mulai memasuki kota Banda Aceh.  Jarak mesjid sendiri dengan Pelabuhan Ulee Lheue cukup dekat sekali.  Lebih dekat ketimbang bangunan eks Rumah Sakit yang saat ini menjadi Pemakaman Massal Banda Aceh.  Namun, bisa anda lihat, mesjid ini masih berdiri hingga hari ini sedangkan Rumah Sakit yang jaraknya lebih jauh dan konstruksi bangunannya lebih modern dipaksa untuk tahluk dan luluh lantak. Untuk mengenang kejadian pada waktu itu, 24 Desember 2004, sebagai pelajaran buat kita semua, mesjid ini dinobatkan sebagai titik O (nol) nya bencana Tsunami Atjeh 2004.
Sempatkan juga diri anda untuk mengunjungi Museum Tsunami Aceh yang terletak di pusat kota Banda Aceh, di sana anda dapat melihat memorabilia mesjid ini yang dilukiskan sebagai bangunan yang tersisa di daerah Meuraxa pasca Tsunami dengan sampah kayu di pelataran mesjid.

PLTD Apung
Mungkin ini merupakan kali kesekian kunjungan saya ke objek yang merupakan salah satu bukti keganasan bencana Tsunami di Desember 2004 yang lalu.  Tidak pernah bosan menatap kapal milik Pertamina berbobot 2.600 ton ini.  Menurut papan informasi yang terletak di sekitar objek, Kapal ini sendiri berasal dari Kalimantan dan sengaja dikirim ke Banda Aceh pada kala itu untuk memehuhi kebutuhan pasokan listrik di wilayah Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya. 
Saat terjadinya bencana di 26 Desember 2004, posisi kapal sedang tambat di Pelabuhan Ulee Lheue.  Gelombang besar Tsunami pada kala itu membawa kapal hingga ke Kampung Punge Blang Cut yang berjarak sekitar 4 Km dari Pelabuhan Ulee Lheue.

Terima kasih kepada sahabat terbaik di Banda Aceh, Marwan Hakim dan Abangda Deddy Sunandar Mahfudz yang telah meluangkan waktunya mendampingi lawatan selama di Banda Aceh.