Sabtu, 19 Mei 2012

LAI, DURIAN KHAS DARI KALIMANTAN


Tidak afdol kunjungan ke Kalimantan, khususnya Balikpapan atau Samarinda, bila tidak menikmati sajian Lai, durian lokal Kalimantan.  Begitu kata seorang teman yang mengetahui saya telah bolak balik ke Balikpapan maupun Samarinda untuk tujuan tugas kantor tapi belum sekalipun merasakan buah lokal Kalimantan tersebut.  Pasalnya, dalam setiap kunjungan ke tanah Borneo tersebut selalu saja teman – teman di Balikpapan dan Samarinda mengatakan kalau musimnya Lai belum tiba.  Jadi saya anggap belum beruntung saja.  
 
Namun, setibanya di Samarinda setelah menempuh perjalanan 3 jam dari Bontang, iseng saya melemparkan usul kepada teman – teman rombongan seperjalanan agar sore itu mencari Lai, sebelum check in di Hotel Bumi Senyiur, Samarinda.  Setelah berkeliling di Samarinda dan beberapa kali terjebak kemacetan akibat antrian pembelian BBM di SPBU, kami pun akhirnya menemukan durian lokal Kalimantan ini di salah satu sudut pasar tradisional Samarinda.

Fisiknya sendiri tidak ada bedanya dengan durian kebanyakan.  Namun bila kita cermati, durinya ternyata jauh lebih bersahabat ketimbang durian biasa karena lebih lembut.  Salah seorang teman bahkan sempat menempelkan duri Lai tersebut ke kulit wajahnya, membuktikan kepada saya kalau duri Lai tidak berbahaya.  

Lai yang memiliki nama latin Durio Kutejensis (Kutejensis = berasal dari Kutai) sering juga disebut Elai.  Yang paling membuat saya takjub adalah warna daging buahnya yang berbeda sekali dengan warna daging buah durian kebanyakan.  Warnanya kuning tua bahkan beberapa ada juga yang oranye muda membuat saya tidak mampu untuk menahan hasrat untuk mencobanya.  Bagaimana rasanya si durian yang berasal dari Kutai ini ?  Sebelum melangkah ke rasa buahnya, saya beritahukan dulu tentang tekstur daging buahnya.  Kalau durian biasa / kebanyakan bertekstur lembut dan cendrung basah, Lai malah kebalikannya.  Anda akan mendapati kalau tekstrur buah khas Kalimantan ini kering dan sedikit liat / keras.  Seperti durian biasa yang belum matang / masak.  Aromanya sendiri tidak sekuat durian kebanyakan.   Kebetulan penjual Lai di tempat kami bersantap ini juga menjual durian biasa yang berasal dari Melak, salah satu durian unggulan di Samarinda.  Jadi, bisa dibandingkan fisik Lai dengan Durian Melak.

Bagaimana dengan rasanya ??  Untuk anda penikmat durian rasa Lai tentunya tidak sebanding dengan durian biasa / kebanyakan.  Lai memiliki rasa yang menurut saya, kurang nendang bila dibandingkan dengan durian kebanyakan.  Tidak begitu ber-gas dan tidak begitu manis atau pahit sebagaimana rasa durian kebanyakan.  Teman saya mengatakan kalau mencicipi Lai ini hingga puluhan biji juga tidak bakal mabuk atau pusing.  Jadi cukup aman bila disantap oleh penderita kolestrol sekalipun.  Begitu katanya.  Saya tidak tahu apakah pendapatnya tersebut berdasarkan hasil penelitian medis atau tidak, namun saya bersyukur sekali di kunjungan saya yang kesekian kalinya ke tanah Borneo ini akhirnya dapat menikmati sajian durian lokal khas Kalimantan, Lai.