Minggu, 29 Juli 2012

MELANCONG KE SENGGIGI, LOMBOK







































Hari masih gelap ketika saya memutuskan untuk keluar kamar dan berjalan menyusuri Pantai Senggigi yang letaknya dekat sekali dengan hotel tempat saya menginap.  Walaupun badan ini masih meminta istirahat setelah menyelesaikan sholat Subuh, namun keinginan hati jauh lebih kuat untuk menikmati keindahan Senggigi di pagi hari. Berbekal informasi dari petugas resepsionis yang saya tanya malam tadi, saya pun bergegas menuju Pantai Senggigi, berharap mendapatkan sunrise hari ini walaupun saya tahu hal itu tidak mungkin.  Hahahahaha....ya namanya juga berharap.  Menurut informasi petugas resepsionis, saya harus menuju ke tempat yang disebut anjungan atau Senggigi Reef.  Disana saya dapat menyaksikan matahari terbit walaupun terhalang punggung bukit.





Hotel tempat saya menginap ternyata terletak di garis Pantai Senggigi. Mereka malah memiliki sunset point, tempat untuk menyaksikan matahari terbenam dengan menikmati suguhan panganan dari chef terbaik mereka. Dengan melangkahi pagar hotel, saya pun menjejakkan kaki di Pantai Senggigi pagi itu.  Sudah ada beberapa orang yang menikmati pagi di Senggigi, diantaranya jogging di sepanjang track yang khusus dibuat mengikuti garis pantai.  Termasuk penjual mutiara yang menghampiri saya dan menawarkan dagangannya.  Awalnya saya tidak berminat sama sekali untuk melihat kerajinan tangan yang terbuat dari mutiara tersebut.  Namun akhirnya saya termakan bujuk rayu sang penjual.  Dia pun mulai memperlihatkan keistimewaan barang dagangannya.  Saya sempat kaget ketika si penjual tadi mendemontrasikan keaslian mutiaranya dengan membakarnya dengan api memakai geretan.  Tips saya buat anda yang membeli buah tangan berupa kerajinan tangan mutiara ini, terutama dari pedagang mutiara keliling.  Pastikan anda berani menawar hingga 50 % atau bahkan sampai 75% dari harga yang disebutkan si penjual.  Jangan sampai tertipu seperti saya, hahahahaha...











































Selesai membeli beberapa kerajinan mutiara khas Lombok untuk buah tangan, saya kembali melanjutkan menyusuri Pantai Senggigi.  Tepat di Sunset Point, bagian Pantai Senggigi yang dikelola oleh hotel tempat saya menginap, saya melihat petugas hotel telah selesai mempersiapkan meja dan kursi tempat tamu hotel menikmati pantai sekaligus mencicipi masakan dan minuman.  Wow, alangkah romantisnya.  Apalagi di petang nanti, saat matahari bersiap - siap untuk terbenam, Sunset Point merupakan tempat yang tepat bersama pasangan atau keluarga.  Saya pun merencanakan untuk menyaksikan sunset di sore nanti di Sunset Point ini.

Dari Sunset point pun kita dapat melihat Gunung Agung di Pulau Dewata yang berdiri tegak yang menambah kekaguman kita terhadap lansekap Senggigi.  Pantai Senggigi sendiri, menurut saya, tidaklah seindah pantai - pantai lain di Pulau Lombok, terutama pantai yang terletak di Lombok Timur. Pantai Senggigi tidak memiliki pasir putih khasnya pantai di Lombok Timur, seperti Pantai Kuta dan Pantai Tanjung Aan.  Pasir di Pantai Senggigi ini gelap bahkan cendrung kehitam-hitaman. Namun karena telah dikelola sejak lama dan memiliki sejumlah fasilitas penginapan serta tidak jauh dari kota Mataram, Pantai Senggigi lebih familiar dan populer dibandingkan dengan pantai - pantai di Lombok Timur.


 Tidak jauh dari Sunset Point, terlihat beberapa perahu milik masyarakat sandar di Pantai.  Awalnya saya mengira kalau perahu - perahu tersebut adalah perahu milik nelayan dan dipergunakan untuk menangkap ikan. Dugaan saya ternyata salah.  Perahu - perahu tersebut ternyata khusus bertugas untuk menyeberang ke Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air. Salah seorang pemilik perahu menghampiri saya dan menawarkan paket - paket kunjungan ke Gili plus dengan sejumlah bonus, seperti gratis snorkling.  Paket yang ditawarkan pun beragam, seperti perahu untuk kapasitas 4 orang seharga Rp400.000 per hari dan kapasitas 6 orang sebesar Rp600.000 per hari.  Saya hanya tersenyum saja menanggapi tawaran tersebut.


Sore harinya selepas menyelesaikan pekerjaan di kantor, saya pun sesegera mungkin kembali ke hotel. Bersiap-siap agar tidak kehilangan momen menyaksikan sunset di Pantai Senggigi melalui Sunset Point.  Namun sialnya, memory card kamera saya bermasalah sehingga harus kembali keluar hotel untuk membeli penggantinya. Untunglah tidak jauh dari hotel terdapat toko yang menjual memory card namun harganya sudah pasti tidak bersahabat.  Apa boleh buat, saya pun akhirnya mengalah dan membeli memory card tersebut.  Setelah menyelesaikan pembayaran, saya pun bergegas kembali ke hotel dan langsung menuju ke Sunset point.  Sudah banyak orang ternyata yang menunggu momen matahari terbenam sore itu.  Namun saya pun tidak berharap banyak karena saya lihat awan menggantung di horison. Mengingat kejadian di beberapa tempat sewaktu mengabadikan sunset, awan di horison bukanlah pertanda yang baik dan biasanya sunset pun menghilang di balik awan sebelum dapat disaksikan menyentuh horison.  Tapi begitupun saya bersyukur karena masih bisa menyaksikan matahari terbenam karena teman - teman Mataram mengatakan kalau 2 hari ini Mataram dan Senggigi selalu hujan di sore hari.