Senin, 13 Februari 2012

CERITA DARI UJUNG BARAT NUSANTARA














Akhir Januari 2012 lalu saya menerima penugasan untuk berangkat ke Sabang.  Ini adalah penugasan yang kedua kalinya menuju kota yang terletak di ujung barat Republik dengan harapan semuanya berjalan dengan lancar dan sukses.  Pada awalnya saya tidak terlalu berniat untuk motret karena dalam kunjungan pertama saya telah mengunjungi beberapa tempat wisata Sabang dan Pulau Weh.  Begitu pun, EOS 500D dengan Tamron 18-270mm VC DiII tetap saya masukan dalam backpack, mana tahu diperlukan. 


Urusan di kota Sabang ternyata dapat diselesaikan dalam waktu 1 jam 30 menit.  Saya masih punya waktu sekitar 4 jam lagi sebelum ferry penyeberangan menuju ke Banda Aceh berangkat pada jam 16.00 WIB nanti.  Sambil mengisi waktu menunggu jadwal pulang ke Banda Aceh, saya dan para sahabat di Nanggroe, Marwan Hakim dan Hendra, memutuskan berkeliling Sabang.  Niat awal saya yang tadinya tidak ingin motret pun pupus sudah ketika melihat langit biru, laut yang terhampar luas serta jajaran perahu yang sedang sandar di pelabuhan.  Saatnya DSLR bertugas.  Sabang, tempat dimana ada saja alasan untuk menekan tombol rana untuk mengabadikan keindahan ciptaan Tuhan.











Waktunya kembali ke Banda Aceh. Terima kasih Sabang. Dalam hati saya membatin, mudah – mudahan diberikan kesempatan untuk kembali. Ada keinginan untuk mengabadikan keindahan bawah lautnya Sabang yang katanya terkenal indah.

Banda Aceh, kota yang sarat sejarah. Tidak pernah bosan saya untuk mengagumi kuta raja ini walaupun telah berkali – kali mengunjunginya. Saya pun menyempatkan untuk mengambil   beberapa gambar di tempat – tempat yang sebelumnya terlewatkan pada kunjungan terdahulu.




















Kapal di atas rumah merupakan salah satu saksi bisu dahsyatnya Tsunami yang menerjang Banda Aceh pada 26 Desember 2004 yang lalu. Berdasarkan informasi yang terdapat pada situs tersebut, kapal kayu dengan dimensi panjang 25 meter, lebar 5,5 meter dan berat 25 ton awalnya berada di Sungai Krueng Aceh dan sedang melakukan docking / perawatan. Rencananya pada hari Minggu, 26 Desember 2004, kapal diperintahkan oleh pemiliknya untuk dibawa ke Lhoknga untuk diisi pukat. Namun gelombang Tsunami mengantarkan kapal kayu tersebut 1 km dari posisi awalnya dan terdampar di atas rumah penduduk yang terletak di Lampulo, Banda Aceh. Ada 59 orang warga yang naik ke atas kapal tersebut untuk menyelamatkan diri dari amukan Tsunami dan seluruhnya selamat.



Setelah puas melihat salah satu situs peninggalan Tsunami 2004, saya diajak untuk melihat makam Syiah  Kuala, salah satu ulama pada zaman Kerajaan Samudera Pasai.  Makam sang ulama letaknya tidak jauh dari pantai, namun beberapa cerita masyarakat yang beredar menyebutkan bahwa makam tersebut sama sekali tidak mengalami kerusakan ketika Tsunami melanda Banda Aceh.  Subhanallah...Karena ada larangan memotret di sekitar makam, maka yang saya abadikan adalah keindahan pantai yang letaknya tidak jauh dari situs makam Syiah Kuala.

Dari pantai saya dapat melihat nun jauh di ujung sana, Gunung Seulawah, tegak berdiri seakan - akan mengawasi dan menjaga Nanggroe.



Terima kasih kepada Abangda Deddy Sunandar Mahfuz, Marwan Hakim dan Hendra yang telah menemani berkelana di negeri Serambi Mekkah.  Izinkan asa ini untuk kembali, demi sejarah kota kalian, kuliner dan budayanya.