Sabtu, 10 Maret 2012

MENYAMBANGI BATURRADEN























Perjalanan dinas kali ini membawa saya ke Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas. Setelah 3 hari berkutat dengan pekerjaan, di hari terakhir selesai sarapan pagi di hotel, saya akhirnya berhasil mengajak rombongan untuk melihat salah satu objek wisata yang terletak tidak jauh dari Purwokerto.  Menurut saya, sayang sekali sudah sampai di Purwokerto tapi tidak ke Baturraden.  Perjalanan ke Baturraden kami tempuh selama 15 menit dan baru saya sadari kalau objek wisata ini terletak di lereng Gunung Slamet.

























Mendekati lokasi objek wisata Baturraden, dari kejauhan saya melihat badan pesawat terbang.  Saya pun sempat bercanda dengan rombongan kantor, jangan - jangan ini Bandara, bukan Baturraden.  Badan pesawat tersebut hanyalah replika dan merupakan bangunan Theatre Alam.  Dari poster yang terletak di depan replika, pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk sebesar Rp5.000 per orang dan dapat memilih beberapa film untuk ditonton, seperti film tentang objek wisata Baturraden, pendakian gunung Slamet, Pantai Teluk Penyu dan beberapa film lainnya.  Karena keterbatasan waktu, maka kami pun sengaja melewatkan kesempatan untuk mencoba theatre ini.  Cukup mengabadikan tempatnya saja yang menurut saya cukup menarik.

Tertarik dengan sejarah asal muasal Baturraden, saya pun coba untuk googling.  Dari beberapa situs internet yang saya baca, Baturraden berasal dari kata Batur (pembantu) dan Raden (bangsawan).  Menurut cerita yang sampai saat ini banyak dipercaya oleh warga sekitar, dahulu kala anak perempuan Adipati Kadipaten Kutaliman menjalin hubungan asmara dengan pembantunya.  Namun karena hubungan tersebut tidak dapat dilanjutkan karena adanya perbedaan status dan kasta.  Sampai saat ini orang - orang di sekitar objek wisata Baturraden percaya bahwa pengunjung yang datang ke Baturraden dengan pasangannya dan belum menikah biasanya tidak akan sampai ke pelaminan. 



Objek wisata Baturraden sendiri memiliki luas 16,5 hektar dan terdapat beberapa air terjun atau pancuran.  Sekali lagi, karena keterbatasan waktu, maka saya hanya bisa motret objek yang berada tidak jauh dari gerbang masuk.




Terima kasih kepada bos dan senior saya yang sudah bersedia untuk meluangkan waktu ke Baturraden, Bapak Moegiyarto Soeryo dan Bapak Bambang Mulyana.  Sekarang waktunya mengejar Argo Lawu untuk kembali ke Jakarta.